1. Pengertian
Pengambilan Keputusan
Pengambilan
keputusan ini terjadi sebagai reaksi terhadap suatu masalah. Ada kesenjangan
antara keadaan saat ini dan keadaan yang diinginkan, dan hal ini menuntut
pertimbangan arah tindakan yang dipilih (Robbins, 1996). Seseorang yang telah
mengambil keputusan, dengan demikian dapat diartikan ia telah melakukan
pemilihan terhadap alternatif-alternatif yang ditawarkan kepadanya. Hal yang
tidak dapat dipungkiri adalah kemungkinan atau pilihan yang tersedia bagi
tindakan itu dibatasi oleh kondisi dan kemampuan orang-perorangan, lingkungan
sosial, ekonomi, budaya, lingkungan fisik dan aspek psikologis
(Roepke, 1982). Berdasarkan uraian di atas, maka diketahui bahwa pengambilan
keputusan itu berkaitan dengan alternatif yang dihadapi individu (terutama
pemecahan masalah) dan pilihan yang diambil individu terhadap alternatif yang
ada. Setiap individu memiliki kondisi yang berbeda-beda, hal ini mempengaruhi
atau ikut menentukan pilihan yang ada pada individu. Pengawas harus
memperhatikan lingkungan internal dan eksternal dalam mengambil suatu
keputusan. Pertanyaannya; bagaimanakah menentukan kondisi sesuai lingkungan
internal dan eksternal?
2. Proses
Pengambilan Keputusan
Memilih dan
mengambil keputusan merupakan dua tindakan yang sangat erat kaitannya dengan
kehidupan manusia. Dalam sepanjang hidupnya manusia selalu dihadapkan pada
pilihan-pilihan atau alternatif dan pengambilan
keputusan
(Simatupang, 1986). Hal ini sejalan dengan teori real life choice, yang
menyatakan dalam kehidupan sehari-hari manusia melakukan atau membuat
pilihan-pilihan di antara sejumlah alternatif. Pilihan-pilihan tersebut
biasanya
berkaitan dengan
alternatif dalam penyelesaian masalah (Gladwin, 1980). Matlin (1998), pada
penjelasan berikutnya, juga menyatakan bahwa situasi pengambilan keputusan yang
dihadapi seseorang akan mempengaruhi
keberhasilan
suatu pengambilan keputusan. Tahap berikutnya setelah seseorang berada dalam
situasi pengambilan keputusan adalah tindakan untuk memprtimbangkan,
menganalisa, melakukan prediksi, dan menjatuhkan pilihan
terhadap
alternatif yang ada. Dalam tahap ini reaksi individu yang satu dengan yang lain berbeda-beda sesuai dengan kondisi
masing-masing individu. Ada beberapa individu dapat segera menentukan sikap
terhadap pertimbangan yang telah dilakukan, namun ada individu lain yang nampak
mengalami kesulitan untuk menentukan sikap mereka. Tahap ini dapat disebut
sebagai tahap penentuan keberhasilan dari suatu proses pengambilan keputusan
(Matlin, 1998).
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan Dalam prakteknya ternyata ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Siagian (1991) menyatakan bahwa ada aspek-aspek tertentu bersifat internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Adapun aspek internal tersebut antara lain :
a. Pengetahuan
Pengetahuan yang
dimiliki oleh seseorang secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap pengambilan
keputusan. Biasanya semakin luas pengetahuan seseorang semakin mempermudah
pengambilan
keputusan.
b. Aspek
kepribadian
Aspek kepribadian
ini tidak nampak oleh mata tetapi besar peranannya bagi pengambilan keputusan.
Aspek eksternal
dalam pengambilan keputusan, antara lain :
a. Kultur
Kultur yang
dianut oleh individu bagaikan kerangka bagi perbuatan individu. Hal ini
berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan.
b. Orang lain
Orang lain dalam
hal ini menunjuk pada bagaimana individu melihat contoh atau cara orang lain
(terutama orang dekat ) dalam melakukan pengambilan keputusan. Sedikit banyak
perilaku orang lain dalam mengambil keputusan
pada gilirannya
juga berpengaruh pada perilkau individu dalam mengambil keputusan. Arroba
(1998) menyatakan ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi pengambilan
keputusan yang dilakukan oleh seseorang, antara lain :
a. Informasi yang
diketahui perihal permasalahan yang dihadapi
b. Tingkat
pendidikan c. Personality
d. Coping, dalam hal ini dapat berupa pengalaman
hidup yang terkait dengan permasalahan (proses adaptasi).
e. Culture
4. Menjadi
Problem Solver
Seorang pemimpin pendidikan berkualitas harus mampu menjadi pemecah masalah bagi
dirinya dan orang lain. Ini merupakan konsekuensi logis sebagai seorang
pemimpin dan pengawas pendidikan, karena mau tidak mau, suka tidak suka, ia
harus berani mengambil keputusan. Karena posisinya sebagai problem solver, ia
harus benar-benar memiliki daya analisis yang tinggi, sehingga keputusan yang
diambilnya sudah dipertimbangkan secara matang.
Hal ini dapat dilakukan melalui studi kasus, pengamatan, maupun wawancara
terfokus. Problem solver berkaitan dengan fungsi seseorang dalam kompetensi dengan bagaimana memecahkan
persoalan atau masalah yang dihadapi oleh pihak lain. Problem solver adalah kemampuan yang harus
dimiliki seorang berkaitan dengan
bagaimana memecahkan masalah (problem solving). Sebagai problem solver atau
orang yang berperan memfasilitasi bagaimana memecahkan masalah atau persoalan,
seorang manajer konflik harus bisa mengelola bagaimana konflik yang terjadi di lingkup
organisasi pendidikan. Penyelesaian konflik harus bersifat fungsional yang akan
mempunyai dampak pada pertumbuhan kreativitas antara anggota yang terlibat,
peningkatan kinerja kelompok, dorongan terjadinya persaingan yang sehat, dan
kesediaan menerima perbedaan-perbedaan dalam diri anggota kelompok dan
organisasi pendidikan. Pemecahan Masalah
Secara Analitis dan Kreatif. Pengawas sebagai problem solver menjalankan fungsi
yang kompleks sehingga harus memiliki kreativitas dalam memecahkan masalah dan
mengembangkan alternatif penyelesaiannya. Tahapan berpikir kreatif dapat
dilalui melalui: a. Tahap pertama yaitu orientasi masalah, yaitu merumuskan
masalah dan mengindentifikasi aspek aspek masalah tersebut. dalam prospeknya,
sipemikir mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan masalah yang
dipikirkan.
b. Tahap kedua
yaitu preparasi, pikiran harus mendapat sebanyak mungkin informasi yang relevan
dengan masalah tersebut. Kemudian informasi itu diproses untuk menjawab
pertanyaan yang diajukan pada tahap orientasi.
c. Tahap ketiga
yaitu inkubasi. Ketika pemecahan masalah mengalami kebuntuan maka biarkan
pikiran beristirahat sebentar. Sementara itu pikiran bawah sadar kita akan
bekerja secara otomatis untuk mencari pemecahan
masalah.
d. Tahap ke empat
yaitu iluminasi, proses inkubasi berakhir , karena si pemikir mulai mendapatkan
ilham serta serangkaian pengertian
(insight) yang dianggap dapat memecahkan masalah.
e. Tahap ke lima
yaitu verifikasi, yaitu melakukan pengujian atas pemecahan masalah tersebut,
apabila gagal maka tahapan sebelummnya harus di ulangi lagi. Profesi sebagai
pengawas sekolah menuntut kemampuan tinggi untuk
memecahkan
masalah dengan benar dan cepat. Sebuah contoh, seorang pengawas tidak memiliki
pemahaman yang benar tentang perannya,
sehingga bagaimana mungkin dia bisa
menjalankan tugasnya dengan benar. Kemungkinan yang terjadi adalah
kesalahpahaman. Sering kita mendengar
perilaku pengawas yang datang ke sekolah, duduk di ruang kepala sekolah,
menulis laporan supervisi di buku
supervisi walaupun dia tak pernah masuk ke kelas untuk melihat guru mengajar.
Dia juga tentu tidak memahami apa yang diharapkan guru dan kepala sekolah
selaku pihak yang disupervisi. Gaya pengawas dalam mengambil keputusan
seringkali menentukan kelancaran organisasi pendidikan dan penyelesaian
berbagai masalah.
5. Gaya Pengambilan Keputusan
Pengertian Gaya
Pengambilan Keputusan Salah satu pengertian penting berkaitan dengan masalah
pengambilan
keputusan ini,
yaitu dalam aktifitas sehari-hari manusia tidak bisa terlepas dari proses
pengambilan keputusan (Matlin, 1998). Pengertian penting lainnya yaitu
berkaitan dengan keunikan atau keanekaragaman pengambilan keputusan
antara individu
yang satu dengan individu yang lain. Dalam hal mengambil keputusan, antar
individu yang satu dengan individu yang lain melakukan pendekatan dengan cara
yang tidak sama. Jadi ada gaya yang berbeda-beda
antar individu
yang satu dengan yang lain dalam melakukan pengambilan keputusan (Brigham Young
University, 1999).
Gaya pengambilan
keputusan dipahami sebagai cara respon yang dipelajari atau dibiasakan dimana
melaluinya individu melakukan pendekatan dan melakukan pengambilan keputusan (
Bruce & Scott, 1999). Batasan yang lain
menyatakan bahwa gaya pengambilan keputusan adalah cara-cara unik yang
dilakukan seseorang di dalam membuat keputusan-keputusan penting dalam hidupnya
(Harren, 1980). Dalam penjelasan berikutnya, Harren (1980) juga menyatakan bahwa tanpa memperhatikan
keputusan-keputusan yang dibuatnya, tiap-tiap orang mempunyai cara unik untuk
mengambil keputusan. Harren, dkk. (1978) membedakan pengambilan keputusan ke
dalam dua (2) gaya pengambilan keputusan yang berseberangan yaitu gaya rasional
dan intuitif. Penggolongan dua gaya ini di dasarkan atas:
a. Tingkat
individu dalam menggunakan strategi pengambilan keputusan yang bersifat logis
berlawanan dengan strategi pengambilan keputusan yang bersifat emosional.
b. Cara individu
dalam mengolah dan menanggapi informasi serta melakukan evaluasi dalam situasi
pengambilan keputusan.
6. Gaya Pengambilan Keputusan dan Tipe
Kepribadian
Salah satu fakta
menunjukkan bahwa tidak semua individu melakukan pendekatan yang sama dalam
mengambil keputusan. Antar individu mempunyai langkah maupun sudut pandang yang
beragam dalam menentukan suatu
keputusan dalam
hidupnya. Pada penjelasan yang lebih lanjut, dinyatakan bahwa ada gaya yang
berbeda-beda di dalam pengambilan keputusan yang dilakukan oleh individu
(Brigham Young University, 1999). Gaya pengambilan
keputusan
didefinisikan sebagai cara unik seseorang membuat keputusan-keputusan dalam
hidupnya (Harren, 1980). Harren, dkk. (1978) mempercayai bahwa tanpa memperhatikan
keputusan-keputusan yang dibuat, tiap orang mempunyai cara unik untuk mengambil
keputusan. Gaya pengambilan keputusan juga dipahami sebagai cara respon yang
dipelajari atau
dibiasakan. Melalui hal ini individu melakukan pendekatan dan mengambil keputusan
(Bruce dan Scott, 1999). Tidak ada satupun cara terbaik yang dapat berlaku bagi semua orang.
Tiap-tiap orang belajar mengandalkan suatu cara terbaik yang berlaku atas
dirinya sesuai dengan pengalamannya (Harren, 1980). Berdasarkan penjelasan di atas
maka dapat ditarik suatu pengertian, bahwa gaya pengambilan keputusan bersifat
melekat pada kondisi seseorang. Gaya pengambilan keputusan dipelajari dan dibiasakan oleh individu dalam
kehidupannya, sehingga menjadi bagian dan miliknya serta menjadi pola respon
saat individu menghadapi situasi pengambilan keputusan. Gaya pengambilan
keputusan juga menjadi ciri atau bagian unik dari individu (Phillips, dkk.
1984).
LATIHAN:
Untuk memantapkan
pemahaman Anda atas materi kreativitas
dan pengambilan keputusan, coba Anda kerjakan latihan berikut:
1) Jelaskan
mengenai dua hal yang dapat mendukung
proses berfikir kreatif yang mampu menyelesaikan beragam masalah?
2) Sebutkan
proses-proses untuk menjadi kreatif?
3) Jelaskan
secara singkat proses pengambilan keputusan
4) Sebutkan
faktor-faktor internal dan eksternal yang dapat memengaruhi pengambilan
keputusan?
5) Benarkah
pengambilan keputusan yang tepat dapat
menyelesaikan konflik yang terjadi di llingkungan organisasi pendidikan,
diskusi dengan kelompok anda?
KESIMPULAN
Gaya pengambilan keputusan dipelajari dan dibiasakan oleh individu dalam kehidupannya, sehingga menjadi bagian dan miliknya serta menjadi pola respon saat individu menghadapi situasi pengambilan keputusan.
Jakarta Time
0 comments:
Post a Comment