Fokus pada peningkatan mutu pembelajaran merupakan
kunci sukses program RSBI saat ini. Sukses sekolah dalam meningkatkan mutu
pembelajaran akan berdampak mengurangi instabilitas akibat guncangan paradigma
RSBI yang dipertanyakan publik akhir-akhir ini. Dalam kondisi seperti ini,
semua pihak perlu menaruh perhatian lebih terhadap usaha
meningkatkan mutu pembelajaran. Salah satu strategi adalah penerapan
metode pembelajaran blended agar pembelajaran lebih adaptif dan
berkeunggulan.
Apakah
Metode Blended?
Metode pembelajaran blended merupakan metode mengajar yang
menggabungkan berbagai metode pembelajaran, penggabungan meliputi metode pembelajaran
tradisional dalam bentuk tatap muka dengan metode pembelajaran modern yang
berbasis komputer.
Menurut
para pendukungnya, strategi ini mampu menciptakan lingkungan belajar yang
mengintegrasikan pendidik dan peserta didik dalam interaksi tatap muka maupun
bermedia. (Wikipedia; 2011). Dengan dukungan tatap muka dan bermedia
komunikasi, guru dan siswa dapat berkomunikasi kapan pun dan dari mana
pun.
Istilah blended pada awalnya sering dipakai dalam
bidang pelatihan di Amerika yang dimaknai dengan metode “pembelajaran
integratif”, ” belajar hybrid “, “pembelajaran multi-metode “ .Dilihat
dari sifatnya penggunaan metode ini “variatif dan integratif”, menggunakan
berbagai metode untuk mecapai tujuan dengan tingkat pencapaian yang lebih baik.
Penggunaan
metode ini dapat membuka peluang kepada guru dan siswa sehingga
meningkatkan peluang berinteraksi karena komunikasi dapat dilakukan di dalam
kelas maupun di luar kelas. Kerja sama guru dan siswa tidak
dibatasi dengan keterbatasan jam tatap muka di sekolah. Beban guru untuk
mengajar lebih ringan karena siswa bisa belajar mandiri lebih banyak,
lebih panjang waktunya karena siswa terintegrasi dalam jejaring online.
Jika
digambarkan dalam diagram setidaknya terdapat dua bagian penting
yang membentuk metode blended, yaitu pembelajaran tatap muka, dan
pembelajaran online atau e learning.
Pelaksanaan pembelajaran blended yang mengintegrasikan
metode yang variatif dengan memberdayakan kegiatan tatap muka dan
penggunaan jejaring internet. Untuk menggunakan metode ini memerlukan
kebijakan pada tingkat sekolah agar porsi kegiataqn tiap mata pelajaran sesuai
dengan alokasi tiap mata pelajaran. Dengan dasar itu, tiap guru mata pelajaran
mengembangkan skenario pelaksanaannya berkembang sinergis dengan memperhatikan
beban belajar yang dapat siswa pikul.
Penggunaan metode blended memiliki peluang untuk berkembang
lebih cepat sejalan dengan perkembangan teknologi yang cepat berubah dan
meningkatnya penggunaan internet yang semakin dinamis dengan jejaring yang
semakin luas. Dampak dari perkembangan itu menghasilkan kecendrungan berikut;
1.
Pembelajaran dinamis dengan menggunakan
perangkat teknologi wireless; waktu, tempat, pekerjaan, komunikasi
terintegrasi dalam jejaring internet.
2.
Pembelajaran menekankan pada aspek
visual, individual, dan materi pembelajaran yang semakin mudah
diakses.
3.
Pembelajaran blended akan semakin cepat
berkembang untuk memenuhi kebutuhan setiap individu perlu belajar.
4.
Pembelajaran akan semakin terintegrasi,
mengentalkan komunitas, dan menguatkan kolaborasi.
Mengapa
Pembelajaran Blended?
Pendidikan
yang bermutu adalah pendidikan yang memenuhi kebutuhan hidup siswa pada
jamannya. Hasil penelitian para ilmuan dan para praktisi tingkat global bahwa
pada perspektif global para siswa memerlukan 4 keterampilan utama.
Keterampilan esensial yang mendasari keempat keteramplan itu adalah terampil
mematuhi perintah Allah seperti yang tergambar di bawah ini.
1.
Fokus penguasaan akademik, diintegrasikan
pada isu global; finansial, ekonomi, dan kewirausahaan; kewarganegaraan;
melek kesehatan, dan melek lingkungan dengan fokus utama pada
2.
Meningkatkan keterampilan belajar dan
berinovasi. siswa yang disiapkan maupun yang tidak disiapkan tetap sajam
perlu meningkatkan kreativitas-inovasi, berpikir kritis-pemecahan masalah,
berkomunikasi-berkoloborasi untuk masa depannya.
3.
Keterampilan mendayagunakan informasi,
media, dan teknologi informasi komunikasi (TIK) sehingga siswa memiliki akses ke
banyak informasi, 2) beradaptasi pada perubahan perangkat teknologi yang
berubah cepat, dan 3) kemampuan berkolaborasi serta mengembangkan
kontribusi individu pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
4.
Hidup dan Berketerampilan Karir. Lingkungan
kehidupan yang kompleks, dunia kerja yang semakin kompetitif di era informasi
global mengharuskan siswa memperhatikan pengembangan kemampuan hidupnya dan
keterampilan berkarir.
5.
Hidup berkarakter yang didasari degnan
keterampilan hidup yang berahlak dan mamatuhi perintah Allah
Tony Wagner menyatakan bahwa keterampilan siswa perlu
terasah untuk mengembangkan keterampilan bersifat interdisipliner,
terintegrasi, berbasis proyek, dan terampil menggunakan keterampilan terbaiknya
untuk bertahan hidup.
Dalam bukunya Global Achievement Gap, Tony menyatakan bahwa ada 7 keterampilan utama yang wajib siswa kuasai agar bertahan hidup dan beradaptasi dengan perubahan di Abad ke 21, yaitu:
Dalam bukunya Global Achievement Gap, Tony menyatakan bahwa ada 7 keterampilan utama yang wajib siswa kuasai agar bertahan hidup dan beradaptasi dengan perubahan di Abad ke 21, yaitu:
1.
Terampil berpikir kritis dan memecahkan
masalah.
2.
Kolaborasi berbasis jaringan dan
mengembangkan kemapuan memimpin yang berpengaruh.
3.
Mampu mengubah arah dan bergerak secara
cepat dan efektif dan beradaptasi.
4.
Memiliki daya inisiatif dan
berkewirausahaan
5.
Bicara dan menulis secara efektif.
6.
Mengakses dan menganalisis informasi.
7.
Bersikap selalu ingin tahu dan
berimajinasi.
Di samping memiliki kesadaran global. pendidikan yang
Indonesia harus dapat mengindonesiakan para siswa agar manjadi manusia
Indonesia yang berkeungulan. Untuk itu mereka butuhkan keterampilan yang
menjadi ciri khas Indonesia yaitu menjadi manusia beriman, berakhlak, dan berkarakter,
siap UN, siap melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, dan beradaptasi dalam
konteks tantangan global.
Dalam memenuhi kebutuhan pengembangan keterampilan siswa
yang sangat variatif sebagaimana dijelaskan di atas, maka kebijakan
sekolah perlu diarahkan untuk mengembangkan keterampilan sebagai sasaran utama.
Ada pun keterampilan utama yang siswa perlukan sebagai berikut:
1.
Terampil membaca, menulis, dan
berkomunikasi.
2.
Terampil menguasai ilmu pengetahuan
esensial.
3.
Terampil belajar dan berinovasi, meningkatkan
kreativitas-inovasi, berpikir kritis, pemecahan masalah.
4.
Terampil mengelola informasi, media,
dan teknologi informasi komunikasi. Terampil mengakses dan menyeleksi
informasi, menggunakan perangkat teknologi yang berubah cepat, dan
berkolaborasi dalam meningkatkan kontribusi individu pada skala
nasional dan global.
5.
Terampil mengembangkan diri yang
berkarakter, berahlak, dan terampil mematuhi perintah Allah.
Mengasah sejumlah keterampilan itu memerlukan dukungan
kebijakan baru yaitu mengubah arah pengembangan kesiapan siswa lulusan UN perlu
diversifikasi dengan kebutuhan pengembangan keterampilan. Penguasaan materi UN
harus dikuatkan dengan cara meningkatkan pemahaman melalui latihan menerapkan
ilmu yang siswa miliki.
Untuk
itu, proses pembelajaran yang selama ini diarahkan untuk mengasah siswa
memecahkan soal, perlu dikembangkan secara simultan dengan keterampilan
menerapkan pengetahuan menjadi karya.
Guru perlu memiliki keterampilan menentukan indikator hasil belajar dalam bentuk penguasaan konsep, mengenali fakta atau fenomena,mengolah data, menguasai informasi, menyajikan informasi, mengembangkan daya kolaborasi siswa untuk mengerjakan semuanya serta didukung pula dengan keterampilan belajar. Seluruh aktivitas itu perlu dirumuskan dalam bentuk perilaku yang terstruktur, terukur, dan relevan dengan kebutuhan siswa di masa depan.
Guru perlu memiliki keterampilan menentukan indikator hasil belajar dalam bentuk penguasaan konsep, mengenali fakta atau fenomena,mengolah data, menguasai informasi, menyajikan informasi, mengembangkan daya kolaborasi siswa untuk mengerjakan semuanya serta didukung pula dengan keterampilan belajar. Seluruh aktivitas itu perlu dirumuskan dalam bentuk perilaku yang terstruktur, terukur, dan relevan dengan kebutuhan siswa di masa depan.
Karena
itu, proses pembelajaran perlu dipersiapkan dan dilaksanakan dengan mengerahkan
segenap sumber daya baik waktu, tenaga, dan sarana yang digunakan secara
bersamaan dalam penerapan metode variatif-integratif atau blended.
Bagaimana
Menyiapkan Pembelajaran Variatif-integratif?
Penerapan metode variatif-integratif yang mengintegrasikan
metode pembelajaran tradisional dengan metode pembelajaran berbasis komputer dan
internet perlu dirancang melalui penetapan kebijakan sekolah yang dimulai dari
perumusan lulusan yang sekolah harapkan. Hal tersebut perlu dirancang dan
dituangkan dalam sasaran pelaksanakan pelayanan pendidikan dan pembelajaran
dalam Dokumen Satu KTSP.
Contoh:
Tujuan
Pengembangan KTSP
Pengembangan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) SMA…. bertujuan untuk
memfasilitasi siswa lulus UN seperti pada contoh berikut menjadi tidak cukup.
Sekolah
perlu menetapkan sasaran yang berbeda sehingga lulus UN bukan satu-satunya
sasaran. Sekolah perlu merumuskan tujuan seperti berikut:
1.
Membentuk akhlak dan perilaku religius
peserta didik yang dibuktikan dengan kepatuhan kepada Allah SWT, meningkatnya
keterampilan siswa beribadah, terampil membaca al-quran, menguasai ilmu agama,
berakhlak, dan berkarakter.
2.
Meningkatkan keterampilan siswa
membaca, menulis, dan berkomunikasi baik dalam bahasa Indonesia maupun
dalam bahasa Inggris.
3.
Meningkatkan keterampilan siswa
menguasai ilmu pengetahuan dan menerapkan ilmu pengetahuan sebagai modal sukses
UN, sukses masuk PTN, dan sukses beradaptasi dalam perubahan dunia yang makin
cepat.
4.
Meningkatkan keterampilan belajar dan
berinovasi, meningkatkan kreativitas-inovasi, berpikir kritis, dan pemecahan
masalah.
5.
Meningkatkan kerampil mengelola
informasi, media, dan teknologi informasi komunikasi, mengakses dan menyeleksi
informasi, menggunakan perangkat teknologi yang berubah cepat, dan
berkolaborasi dalam meningkatkan kontribusi individu dalam konteks
kehidupan nasional dan global.
6.
Meningkatkan keterampilan hidup dan
berkarir dalam lingkungan yang kompleks, dunia kerja yang makin kompetitif,
makin dunia kerja yang semakin memerlukan keterampilan beretika, berkolaborasi,
inovatif, dan memiliki kesadaran global Sebagai konsekuensi dari
penerapan standar dalam pemenuhan standar SKL, maka sekolah perlu menjabarkan
tujuan umum sekolah tersebut dalam indikator kompetensi pecapaian belajar
pada tiap SK KD yang berlandaskan paradigma bahwa puncak keberhasilan
belajar adalah meraih keterampilan menerapkan ilmu pengetahuan sehingga
bermanfaat untuk kehidupan siswa dalam jamannya.
Kompetensi hasil belajar dapat dipilah dalam enam kelompok
berdasarkan kebutuhan hidup siswa dalam abad ke-21 yang meliputi berbagai
contoh perumusan indikator dalam Silabus dan RPP sebagai berikut:
·
Mengungkapkan informasi secara lisan
dengan cara berdiri dalam kelas.
·
Mengidentifikasi informasi ……. melalui
kegiatan eksplorasi.
·
Mengidentifikasi ciri-ciri……..
·
Membandingkan ciri-ciri……..sehinga
diperoleh perbedaan dan persamaan.
·
Membandingkan hasil kajian literatur
dengan hasil pengamatan dengan bantuan teknologi……..
·
Mengeksplorasi keragaman
informasi …….dengan menggunakan berbagai referensi.
·
Menghimpun informasi tentang
……..secara kolaboratif untuk membuat kesimpulan.
·
Menemukan gejala ……. dari berbagai
sumber
·
Mengelaborasi informasi…..dengan
mamanfaatkan potensi kelompok.
·
Menggunakan informasi ……
dalam menyusun laporan pengamatan.
·
Memaparkan .,…..secara tertulis melalui
……..
·
Mevisualisasikan hasil kajian dalam
bentuk power point.
·
Menilai hasil karya ……..secara kritis.
·
Mengembangkan ide baru dengan
menggunakan …….
Model kata-kata operasional seperti itu, perlu
diperltimbangkan lebih lanjut agar konsep, fakta, data, informasi siswa kelola
untuk mengembangkan kapasitas berpikir, memberdayakan teknologi,
kolaborasi, memupuk rasa ingin tahu, dan sejumlah prilaku belajar lain
yang siswa perlukan untuk mengasah keterampilan belajarnya.
Pengembangan
Kompensi Pendidik
Untuk
dapat melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode variatif-integratif
diperlukan kompetensi pendidikan dalam penguasaan teknologi sebagai berikut:
1.
Searching, dengan search engine
2.
Collecting, MP3, garfik, animasi, video
3.
Creating, membuat web, membuat game
4.
Sharing, web pages, blog
5.
Communicating, e-mail, IM, chat
6.
Coordinating, workgroups, mailing list
7.
Meeting, forum, chatroom,
8.
Socializing, beragam kelompok sosial on
line
9.
Evaluating, on line advisor
10.
Buying-Selling, jual beli on line
11.
Gaming, game on line
12.
Learning, jurnal on line, riset on line
Selain memiliki keterampilan menggunakan teknologi, terdapat
sejumlah keterampilan generik yang harus dikuasinya, yaitu kompetensi pedagogis
dan profesional. Dengan memperhatikan sejumlah kepentingan siswa untuk
mengembangkan keterampilan yang simultan dan kompleks, maka keterampilan guru
mengasah keterampilan siswa merupakan titik kritis yang menjadi kunci
sukses.
Menjadi
guru yang terampil menerapkan ilmu pengetahuan, inovatif, dan mengembangkan
logika dan imajinasi siswa merupakan bagian penting. Menantang siswa berkarya
juga menjadi titik kritis lain yang perlu guru kuasai.
Tulisan
ini disusun sebagai bahan pelatihan Kepala SMA dan SMK Provinsi Kalimantan
Tengah di Palangkaraya pada tanggal 3 Desember 2011.
Lampiran:
Referensi:
·
Permendiknas Nomor 23 tahun 2006
·
Silvia and Jason, Supporting
Explorative Learning by Providing Collaborative Online Problem Solving (COPS)
Environment, Farrell Faculty of Education Queensland University of
Technology, AUSTRALIA
Aplikasi Blended Untuk Peningkatan Keterampilan
Berpikir Ilmiah Siswa
Model
aplikasi metode blended dengan cara mengintegrasikan berbagai metode
pembelajaran tradisional dan metode pembelajaran berbasis komputer dan internet
dapat meningkatkan kolaborasi guru-siswa di dalam maupun di luar kelas. Dengan
meningkatnya penggunaan internet melalui hand phone (seperti: SMS, Black
Bary, e mail) oleh para siswa dapat guru manfaatkan untuk melalukan kerja sama
kapan pun dan dari mana pun.
Alangkah
lebih baik jika guru dapat memfasilitasi siswa memanfaatkan sumber belajar yang
telah guru sediakan dalam jejaring internet di samping menggunakan sumber
cetakan dalam bentuk buku atau sumber yang lain. Dengan tersedia banyak sumber
belajar siswa siswa dapat belajar kapan pun dan di mana pun sehingga waktu
belajar siswa menjadi lebih banyak. Konsultasi dan kerja sama guru-siswa
dapat meningkat dengan bantuan teknologi.
Pada
tulisan ini GP menyajikan model penggunaan metode blended untuk
meningkatkan keterampilan siswa berpikir ilmiah. Yang ditekankan benar dalam
proses pembelajaran adalah menggunakan cara berpikir ilmiah. Model berpikir
ilmilah dapat menggunakan berbagai contoh penugasan untuk memecahkan
masalah para pemula seperti:
·
Bagaimana tanaman tumbuh?
Diagram
di bawah ini menggambarkan relasi antara metode tradisional dan metode
belajar moderen berbasis komputer.
Gambar di atas menujukkan hubungan antara kegiatan
tatap muka dengan penugasan atau proyek belajar mandiri yang terintegrasi dalam
model pembelajaran tradisional dengan pembelajaran berbasis internet. Yang
dikembangkan adalah keterampilan berpikir ilmiah siswa yang ditunjang dengan
keterampilan menggunakan teknologi informasi, menghimpun data, mengolah data,
dan menyajikan data secara menarik dan variatif yang dilandasi dengan data yang
benar; mengembangkan kapasitas individu melalui kerja sama dalam
kelompok; mengembangkan keterampilan memimpin; dan karakter tanggung
jawab, selalu ingin tahu, objektif, dan berbudaya mutu.
Dalam
kegiatan pembelajaran ini guru dapat menggunakan strategi dengan
mengintegrasikan berbagai pendekatan, metode, dan tentu saja siklus
pembelajaran eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi (EEK).
Pembelajaran difokuskan pada pengembangan keterampilan
berpikir ilmiah. Materi pelajaran dapat disesuaikan dengan materi yang
relevan pada tiap mata pelajaran. Siklus belajar meliputi siklus EEK. Langkah
awal siswa mengeksplorasi informasi dari berbagai sumber dalam merumuskan
masalah, menentukan tujuan, dan merumuskan hipotesis, serta mengembangkan
kerangka pemikiran sebagai dasar mengembangkan berpikir ilmiah.
Dalam
kegiatan tatap muka guru mengintegrasikan metode diskusi, observasi,
kolaborasi, dan presentasi. Pelaksanaan pembelajaran didukung dengan berbagai
informasi yang diperoleh dari buku sumber kepustakaan serta informasi dari
internet. Pada kegiatan nontatap muka, atau tugas terstruktur guru
mengintegrasikan kerja sama menggunakan blog, email, SMS.
Diagram
model kegiatan belajar siswa dapat dikembangkan seperti berikut:
Pada tahap selanjutnya siswa mengembangkan kemandirian
belajar dengan melaksanakan tugas mandiri (proyek). Namun demikian, komunikasi
guru dengan siswa selama mengerjakan tugas di luar kelas guru tetap menjalin
komunikasi dengan menggunakan jejaring teknologi. Tugas siswa di luar kelas
dilandasi dengan sistem kontrak target belajar, mengembangkan potensi individu
melalui kerja sama kelompok.
Waktu pelaksanaan tugas dibatasi dengan ditentukan lamanya.
Hasil pengumpulan, pengolahan, dan penafsiran data mereka susun dalam bentuk
kerangka laporan yang dikembangkan dengan menggunakan model mind maping.
Laporan dirumuskan kelompok yang disajikan dalam bentuk power point.
Selanjutnya para siswa menyajikan hasil elaborasi data dan
fakta yang mereka peroleh dari hasil penelitian selanjutnya mereka sajikan
sebagai bahan seminar dalam kelas.
Tujuan
pembelajaran bertujuan khusus untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam
berpikir ilmiah yang meliputi beberapa indikator di bawah ini.
1.
Merumuskan masalah
2.
Merumuskan hipotesis
3.
Menguji hipotesis
4.
Mengolah data
5.
Menafsirkan data
6.
Menarik kesimpulan
7.
Melaporkan hasil penelitian.
Diagram
berikut memperlihatkan skenario pembelajaran:
Skenario
pembelajaran dilaksanakan dalam 4 jam pelajaran tatap muka dan tugas
terstruktur di luar kelas. Skenario pembelajaran dikembangkan dalam tiga
tahap sebagaimana digambarkan dalam gambar di bawah ini :
Secara umum pembelajaran ini dikembangkan untuk
membangkitkan daya kompetisi dan kekompakan kelompok. Oleh karena itu dalam
pelaksanaan pembelajaran kelas dibagi dalam beberapa kelompok kecil, maksimal 5
orang.
Guru
dalam pelaksanaan pembelajaran menerapkan sistem time token ekonomi. Dengan
menggunakan pendekatan ini diharapkan siswa mengembangkan daya kompetisi
untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Setiap kekompok yang memenuhi prilaku
belajar dan hasil belajar yang diharapkan dihargai oleh guru dalam bentuk tanda
bintang. Untuk keperluan menghimpun tanda bintang yang diperolah, tiap kelompok
menyediakan kertas tempat menempel tanda penghargaan yang diperolehnya.
Kelompok yang berhasil mendapatkan bintang yang terbanyak mendapat hadiah
khusus misalnya “permen” atau hadiah lain yang memiliki nilai ekonomi.
Proses
pembelajaran dikembangkan lebih lanjut dalam beberapa langkah yang dapat
diuraikan lebih lanjut seperti di bawah ini.
Pertemuan
Tahap ke-1 : tatap muka (Eksplorasi)
Model
pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Introduction/PBI)
1.
Guru menyampaikan Standar Kompetensi,
Kompetensi Dasar, dan Indikator hasil belajar.
2.
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
dan memotivasi siswa agar kompetitif dalam meraih prestasi belajar terbaik
secara berkelompok.
3.
Guru menghimpun informasi yang sudah
siswa kuasai tentang SK /KD yang akan siswa pelajari sebelum proses
pembelajaran berlanjut.
4.
Guru menetapkan target hasil belajar
yang akan dilakukan dalam 3 tahap yaitu kegiatan tatap muka, kegiatan mandiri
terstruktur, dan kegiatan tatap muka untuk mempresentasikan dan membahas hasil
penelitian.
5.
Guru memfasilitasi siswa untuk
membentuk kelompok kecil, maksimal 5 siswa.
6.
Guru memotivasi siswa untuk melakukan
aktivitas merumuskan masalah penelitian, tujuan , hipotesis,
kerangka pemikiran, dan merumuskan informasi yang siswa perlukan dengan
mengeksplorasi dari buku teks pegangan siswa, buku di perpustakaan, mengeksplorasi
informasi dari internet.
7.
Siswa mengeksplorasi berbagai
contoh penelitian sederhana dari berbagai sumber dengan menggunakan kata kunci sciene
for kids.
8.
Guru membantu siswa mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
(menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
9.
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan
informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan
masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
10.
Guru membantu siswa dalam merencanakan
bentuk penyajian kerangka pikir, kerangka laporan, dan menyiapkan karya yang
sesuai seperti laporan dan membantu mereka menyiapkan pengerjaan tugas mandiri
dengan teman-temannya
11.
Tahap
ke-2 : tugas terstruktur (Elaborasi)
Pelaksanaan
kegiatan belajar mandiri menggunakan model student teams – achievement division
(STAD)
1.
Siswa bekerja dalam kelompok
kelompok yang anggotanya 5 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi,
jenis kelamin, kemampuan menyediakan sumber informasi, dll)
2.
Siswa mengerjakan tugas susuai dengan
yang direncanakan, mamastikan bahwa semua anggota kelompok aktif sesuai dengan
peran yang mereka rancang, dan melaksanakan tugas sesuai dengan prosedur yang
telah mereka tetapkan.
3.
Siswa menyampaikan infomasi kepada guru
melalui jejaring internet, berkonsultasi, dan meminta bantuan guru jika siswa
perlukan.
4.
Guru mengontrol perkembangan kegiatan
seluruh siswa, mengarahkan, dan memberi motivasi melalui hubungan
interaktif berbasis jejaring internet.
5.
Siswa mengumpulkan fakta, menghimpun ,
mengolah, dan penafsiran data serta menarik kesimpulan sebagai hasil
penelitian.
6.
Siswa merumuskan hasil penelitian
daalam bentuk power point sebagai bahan penyajian dalam kelas.
Tahap
ke-3: tatap muka (Konfirmasi)
Pelaksanaan
pembelajaran menggunakan model Demonstrasi atau Presentasi
1.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
dan target belajar yang harus siswa capai.
2.
Guru menyampaikan informasi tentang
hal-hal yang menjadi bahan penilaian belajar dan mendorong siswa untuk
berkompetisi memperoleh penghargaan tertinggi karena menunjukkan berbagai
prestasi yang baik.
3.
Guru memfasilitasi siswa menentukan
skenario pelaksanaan penyajian hasil karya siswa sehingga tugas
kelompok penyaji dan kelompok pemerhati menjadi jelas.
4.
Siswa menyajikan hasil penelitian
dalam bentuk power point serta menggunakan berbagai sumber informasi
berbasis jejaring internet.
5.
Siswa membahas materi yang didemonstrasikan
tugas sebagai hasil kegiatan kelompok.
6.
Guru menilai aktivitas belajar siswa
dan karya yang siswa sajikan.
7.
Seluruh siswa memperhatikan demontrasi
dan menganalisis hasil kerjanya untuk disempurnakan.
8.
Siswa melaporkan hasil tugas.
9.
Guru menyampiaikan penghargaan kepada
kelompok terbaik.
10.
Siswa difasilitasi guru menyajikan
hasil karyanya dalam jejaring internet.
Demikian
rangkaian kegiatan yang dapat para guru coba. Salam
Pembelajaran yang Menyenangkan : Model
“Pemainraskidal”
Sebagian
dari faktor yang menentukan manusia meraih keberhasilan adalah ketekunan
berusaha yang dilandasi dengan kecerdasan pikiran dan keteguhan hati.
Kecerdasan menentukan keberhasilan berstrategi, keteguhan hati menjadi energi
gerak motivasinya. Sesuatu yang diterima hatinya dan difahami dengan
cerdas berpikirnya akan lebih mudah dipelajarinya.
Masalahnya
adalah bagaimana proses manusia menyukai sesuatu itu bisa berkembang? Logika
dan suasana hati bagai pasang surut seperti air laut karena pergantian malam
dan siang. Pikiran menjadi terang jika hati tenang. Hati tenang ketika
logika berjalan . Pikirannya tidak tenang memubuat pikiran terhenti hingga
lututpun gemetar kencang. Kata-kata jadi hilang.
Contoh
orang yang sedang tidak dapat mengendalikan perasaan hati sehingga emosinya
diluar kendali. Orang tidak hanya kehilangan kata-kata dan pikiran jernih jika
dalam keadaan berang. Itulah sebabnya otak dan hati itu terbukti erat
terkait.
Bagaimana
Pembelajaran Menyenangkan?
Mempelajari sesuatu yang menyenangkan membuat orang seolah
tidak bekerja. Sebaliknyamempelajari sesuatu yang tidak disukai, selain cepat
membosankan, hasilnya tidak maksimal. Itulah sebabnya nasihat orang bijak
menyatakan pelajarilah sesuatu yang paling ada sukai dan pilihlah pekerjaan
yang paling sesuai. Manusia dapat bekerja jika hatinya menyukainya. Atas dasar
asumsi itu, guru perlu merancang strategi mengajar yang membuat siswa suka.
Tentu saja pekerjaan ini bukan hal yang mudah. Materi pelajaran yang harus guru
sampaikan tidak dikembangkan atas dasar pertimbangan mana yang siswa sukai dan
mana yang tidak siswa sukai.
Materi
pelajaran yang guru sampaikan bukan pilihan siswa, melainkan ditentukan dalam
struktur kurikulum. Tugas guru adalah mengintervensi siswa agar mereka
menyukainya. Itulah sebabnya membuat siswa suka adala tantangan
profesional guru yang kongkrit dan fenomenal.
Siswa
menyukai menyukai pembelajaran sehingga proses belajar menjadi menyenangkan
merupakan harapan semua guru. Untuk mewujudkan harapan itu berbagai prinsip
dapat diterapkan, di antaranya;
Mengajar
yang menyenangkan siswa adalah seni.
Mengajar
selalu memerlukan keterampolan keterampilan memainkan peran dalam menerapkan
skenario seni mengajar. Keterampilan berperan dalam seni mengajar memerlukan
latihan yang berulang untuk dapat menerapkan ilmu dan keterampilan yang
terbaik. Daya presisinya selalu dipertajam dengan pertambahan penguasaan
ilmu dan keterlatihan menerapkan ilmu.
Mengajar
yang menyenangkan itu memfasilitasi siswa menjadi arsitek yang
menentukan tujuan dan strategi belajar.
Peran guru sebagai pendidik, pengajar dan pelatih adalah
memfasilitasi siswa merancang tujuan dan mendorong untuk mewujudkannya.
Menggerakan motivasi siswa dalam mewujudkan tujuan. Jadi motvasi adalah
fungsi tujuan dan usaha.
Semakin
tinggi siswa menetapkan tujuan, makin besar usaha yang harus dilakukannya.
Tugas guru adalah membatu siswa mempercepat mewujudkan tujuan. Di sini
guru secara persuasif harus mengembangkan keyakinan siswa agar semakin tinggi.
Dan, siswa sebaiknya memiliki percaya diri sehingga yakin akan dapat
merealisasikan targetnya.
Meningkatkan
kesadaran siswa memiliki cita-cita yang jelas serta meyakinkan mereka dapat
mewujudkannya merupakan kunci lain untuk meningkatkan keberhasilan belajar.
Keterkaitan antara antara cita-cita yang siswa, keyakinan, dan pengetahuan
merupakan esensi filosofi hidup. Mengetahui tujuan dan memahami prasyarat untuk
mewujudkannya merupakan bagian penting dalam pengembangan pribadi. Keterkaitan
antara kebenaran, keyakinan dan pengetahuan yang seseorang miliki dapat dilihat
dalam hubungan antara ketiganya pada gambar di bawah ini.
Agama
membantu guru membangun cita-cita hidup siswa.
Diagram di atas menggambarkan pula tentang pentingnya
menetapkan cita-cita atau tujuan hidup dengan benar. Di sinilah terlihat
pentingnya peran agama dalam membangun tujuan hidup siswa yang hakiki. Dalam
keterkaitan ini Enstein pernah membuat pernyataan yang sangat terkenal
“Science without religion is lame, religion without science is blind.”
Mengembangkan
pembelajaran yang menyenangkan adalah membangun suasana belajar.
Lingkungan lingkungan sekolah,
interaksi sosial yang dikembangkan dalam sistem organisasi sekolah, budaya
kompetitif yang sekolah kembangkan, manajemen kelas yang efektif menunjang
siswa dapat belajar merupakan hal penting untuk guru perhatikan. Rose and
Nicholl (2003) menyatakan bahwa pembelajaran yang menyenangkan memiliki
ciri-ciri sebagai:
1.
Menciptakan lingkungan tanpa stress,
lingkungan yang aman untuk melakukan kesalahan, namun menumbuhkan harapan
maraih sukses tetap tinggi.
2.
Menjamin bahwa bahan ajar itu relevan
dengan manfaat dan pentingnya dalam memenuhi harapan siswa.
3.
Menjamin bahwa secara emosional dapat
berlangsung proses belajar positif, pada umumnya suasana ini dapat tumbuh jika
belajar dilakukan bersama dengan orang lain, ada humor dan dorongan semangat ,
waktu rehat dan jeda teratur, serta dukungan antusias.
4.
Melibatkan secara sadar semua indera
dan juga pikiran otak kiri dan otak kanan.
5.
Menantang peserta didik untuk dapat
berpikir jauh ke depan dan mengekspresikan yang sedang dipelajarinya dengan
mengerahkan kecerdasan secara optimal untuk memahami memahami bahan ajar.
6.
Mengkonsolidasikan bahan ajar yang
sudah dipelajari dengan meninjau ulang dalam periode-periode yang relaks.
7.
Belajar
yang menyenangkan adalah berinteraksi sosial.
John Dewey
(Wikipedia,2011) menegaskan bahwa pendidikan hendaknya berpusat pada siswa,
berbasis minat siswa, belajar menyenangkan melalui pengalaman belajar yang
sesungguhnya. Untuk itu guru harus mengenali siswa dengan baik, mengamati
mereka, mengembangkan interaksi sosial sebagaimana yang siswa perlukan.
Salah
satu aspek penting dalam perkembangan teknologi mutahir adalah mengembangkan
interaksi dalam komunitas yang mengglobal. Interaksi sosial yang sekolah
kembangkan membantu siswa selalu merefleksikan hasil belajarnya dan belajar
tentang aspek ideal dalam mencapai tujuan. Secara alamiah interaksi
sosial melalui kerja sama dalam komunitas menumbuhkan proses belajar
berkelanjutan.
Teknologi
juga mendorong percepatan belajar dalam mengembangkan kapasitas pikiran,
menyerap informasi, mencari informasi, memicu percepatan, memamerkan, dan
mereview hasil belajar dengan cepat agar siswa dapat beradaptasi pada perkembangan
global.
Belajar
menyenangkan adalah kontekstual sehingga sekolah sebagai sistem terbuka.
Sekolah adalah bagian lingkungan alam dan
lingkungan sosial. Oleh karena itu, siswa dikembangkan dalam lingkungan kelas
yang luas. Kota atau daerah di mana sekolah berada adalah halaman kelas para
siswa. Dalam bunga rampai Free-Choice Learning and the Environment yang
diedit John H. Falk, Joe E. Heimlich, and Susan Foutz (2009) menyatakan
bahwa mengembangkan suasana belajar yang menyenangkan memerlukan sekolah yang
terintegrasi dengan lingkungan sekitarnya. Sekolah menjadi bagian dari
sistem kehidupan yang menunjang proses belajar.
Beragam
tempat yang dapat diintegrasikan seperti taman nasional, universitas, pasar,
hutan lindung, museum, akuarium, kebun binatang, lokasi konservasi, tempat
beribadah yang memungkinkan dapat dimanfaatkan sebagai tempat siswa belajar
sehingga dapat mendorong siswa berpikir divergen.
Membuat
berbasis konteks likungan pada dasarnya memberi peluang kepada siswa untuk
mengenali nilai-nilai dan menjelaskan konsep-konsep secara kontekstual untuk
mengembangkan keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk memahami dan
menghargai keterkaitan di antara manusia, budaya,dan sekitarnya. Dengan
pendidikan berbasis lingkungan dapat mendorong siswa mengambil keputusan dengan
cepat serta memberikan kesempatan kepada siswa memperolah pengetahuan, nilai,
sikap, komitmen, dan keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi tantangan
hidup.
Belajar
menyengkan itu harus terukur. Keseluruhan kegiatan perlu dirancang
dalam kurikulum, diwujudkan dalam pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian yang
terukur, memenuhi syarat motivasi (motivate).
M
=
Measurable goals (tujuan yang terukur)
O
=
Optimal challenge (tantangan yang optimal)
T
=
Tangibel (dapat dilaksanakan)
I
=
In savety (aman dan selamat)
V
=
Variety (bervariasi)
A
=
Activity (aktivitas pengalaman belajar)
T
=
Targetted Positive Reinforcement (Target Penguatan yang positif)
E
=
Entusiasm (antusias)
Kriteria
ini hendaknya guru gunakan untuk meningkatkan pembelajaran agar lebih efektif
dan menyenangkan.
Model
“Pemain ras kidal”
Model
pembelajaran ‘pemain ras kidal’ merupakan akronim dari pembelajaran
menyenangkan, aktif, inovatif, ramah sosial, kreatif, imajinatif, dan rasional.
Pembelajaran
yang aktif dan inovatif berarti bepusat pada kreativitas siswa, menggunakan
strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa mengembangkan potensi dirinya
untuk mengembangkan ide-ide baru, mengeksplorasi informasi untuk mendapatkan
hal-hal baru.
Untuk
mengembangkan kapasitas siswa berpikir guru mengembangkan strategi pembelajaran
yang ramah sosial. Hasil penelitian di berbagai negara terhadap
perlakuan guru kepada siswa menyatakan bahwa persepsi guru dalam memperlakukan
siswa berpengaruh terhadap kinerja belajar siswa. Keramahan sosial guru kepada
seluruh siswa sehingga siswa punya ruang dan waktu belajar.
Pembelajaran
yang menyenangkan memerlukan pembelajaran kreatif . Tujuan pembelajaran
kreatif untuk meningkatkan keterampilan mengolah, menyeleksi, dan
mengubah informasi mejadi hasil karya.Penguasaan ilmu bukan merupakan puncak
keberhasilan, belajar adalah berkarya. Proses ini perlu didukung dengan
keterampilan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan kegiatan
belajar dalam konteks pengalaman belajar yang bermakna untuk kehidupan siswa
pada masanya. Pembelajaran yang tidak berpusat pada kepentingan siswa berarti
pendidikan merampas masa depan siswa.
Pembelajaran
imajinatif dan rasional merupakan paradigma baru yang tumbuh
bersamaan dengan menguatnya persaingan industri antar negara. Pada saat ini
produk yang bermutu tidak hanya berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, namun
juga hasil persaingan kekuatan imajinasi. Lihat setiap produk masa kini, di
samping merupakan hasil dari rekayasa logika, yang tidak kalah menarik adalah
dalam persaingan produk imajinasi. Bentuk kemasan, penampilan produk, seni
pengaturan disain, pola yang terstruktur dalam fitur-fitur baru merupakan bukti
bahwa produk imajinasi dan rasional telah menjadi sumber daya yang
kritis.
Atas
dasar keperluan pengembangan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan perlu
ditunjang dengan beberapa kiat praktis sehingga guru dapat mengembangkan
pembelajaran yang lebih imajinatif dan rasional. Ada pun beberapa kiat praktis
tersebut dapat dijelaskan dalam uraian berikut;
1.
Yang baru lebih menyenangkan. Integrasikan
materi pelajaran dengan contoh peristiwa yang paling aktual. Contoh-dapat
dikembangkan dengan mengambil yang lucu, benar, dan penuh makna
dalam merangsang otak mereka untuk berpikir.
2.
Yang menantang lebih menguras perhatian. Dalam hal ini
berilah siswa dengan tantangan-tantangan yang disepakati dengan dilandasi jiwa
kompetitif.
3.
Penghargaan membangkitkan kebanggaan. Guru perlu
mengembangkan motivasi siswa belajar dengan cara mengembangkan mereka
merasa dihargai. Menghargai mutu sekecil apa pun merupakan langkah
penting. Membangun prakarsa untuk dihargai seperti menghasilkan pertanyaan
menarik dan terbuka yang mendorong otak mereka bekerja merupakan satalah satu
contoh penting.
4.
Mengurangi rasa takut berbuat salah. Memfasilitasi siswa
untuk mengoreksi pikiran dengan cara yang tidak merendahkan diri merupakan hal
yang perlu diperhatikan. Permainan menggunakan kata-kata dengan cara
bertanya merupakan bagian penting lain di samping memberikan pujian.
5.
Meningkatkan keyakinan yang tinggi
dapat berhasil. Mendorong siswa untuk memberikan apresiasi yang lebih
besar terhadap materi pelajaran, cara belajar, dan meningkatkan keterampilan
melalui pemberian peluang untuk merefleksikan hasil belajar secara adil dalam
proses pembelajaran.
6.
Mengubah ancaman menjadi peluang. Ubahlah
mempersepsikan beban menjadi kesenangan. Lihat pendaki gunung. Mereka
membuktikan bahwa ketelatenannya dalam menundukkan kesulitan menjadi
kebanggaan. Puncak gunung yang tinggi dengan ketekunan mereka ubah menjadi di
bawah telapak kaki. Tak ada kesulitan yang tak dapat mereka taklukan sepanjang
masih ada semangat untuk menaklukannya.
7.
Membuat tersenyum dalam kondisi yang
paling sulit. Saat siswa menghadapi kesulitan belajar, buatlah mereka
tersenyum karena penguasaan pengetahuan baru ada di dekatnya. Mereka
menyadari apa yang tidak mereka kuasai. Mereka dapat merumuskan masalah yang
sesungguhnya belum mereka dapatkan.
8.
Mengevaluasi kemampuan siswa untuk
membantu menghasilkan ide-ide baru secara indivual maupun secara
berkelompok dalam mendorong siswa belajar lebih giat. Beberapa siswa
menggunakan waktu lebih banyak daripada yang lain sebaiknya tidak menjadi
kendala.
9.
Membangun pembiasaan membaca dan
menulis
sebagai basis untuk mengeksplorasi informasi baru.
10.
Integrasikan siswa dengan teknologi
secara sehat dan produktif. Hal ini penting mengingat dengan
semakin tingginya siswa terintegrasi terhadap teknologi, semakin kuat
kemungkinan siswa menjadi sosial off line. Di samping itu dengan semakin kuat
siswa terintegrasi dalam jejaring teknologi semakin kuat kemungkinan siswa
terjebak dalam lembah informasi yang menjebak siswa dalam kubangan yang
menjauhkan mereka dari indahnya hidup beragama.
Kesimpulan
Pembelajaran
yang menyenangkan adalah pembelajaran yang membuat siswa belajar sehingga dapat
potensi dirinya secara optimal. Untuk memfasilitasi itu, sekolah dan guru perlu
menciptakan suasana dan proses belajar. Pembelajaran menjadi efektif karena
siswa tahu tujuan yang hendak mereka capai, memiliki keyakinan diri yang tinggi
dapat mewujudkannya, dan tahu bahwa mereka akan berhasil. Mereka tahu pula
bahwa keberhasilannya itu harus dibayar dengan perjuangan. Belajar adalah
bekerja untuk mewujudkan harapan. Kesenangan siswa tumbuh karena mereka selalu
ditunjukkan dengan peta keberhasilannya dan mereka dihargai.
Sepuluh
kiat belajar yang menyenangkan dapat dikembangkan dengan lebih memperhatikan
kebutuhan dan budaya siswa pada tiap satuan pendidikan. Baik di sini belum
tentu baik di tempat lain. Ilmu pengetahuan tidak harus bersifat mutlak. Semua
disesuaikan dengan kebutuhan pada tingkat satuan pendidikan dan di sini letak
kepentingan guru selalu harus berkreasi tanpa henti.
Berikut
GP lampirkan materi untuk bahan presentasi tentang mengembangkan pembelajaran
yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan (173)
Referensi:
·
http://elderton.webfactional.com/media/article_pdfs/MOTIVATE.pdf
·
http://www.elearningpost.com/images/uploads/comm.pdf
·
http://en.wikipedia.org/wiki/John_Dewey
·
John H. Falk, Joe E. Heimlich, and
Susan Foutz (2009) Free-Choice Learning and the Environment. Altamira Press.
New York, Toronto..
·
Rose,C and Nicholl, M. J. 1997,
Accelerated Learning for The 21St Century, Judy Piatkus, London.
·
Teacher’s Perception of the
Contribution of ICT to Pupils Performance in Christian Religious Education,
http://www.krepublishers.com/02-Journals/JSS/JSS-22-0-000-10-Web/JSS-22-1-000-10-Abst-PDF/JSS-22-1-007-10-878-Oyedeko-G-A-K/JSS-22-1-007-10-878-Oyedeko-G-A-K-Tt.pdf

Jakarta Time
0 comments:
Post a Comment