Menurut Vaza (2007:
7) teknologi adalah sebuah proses yang dilaksana-kan dalam upaya
mewujudkan sesuatu secara rasional. Vaza menekankan ka-ta rasional dalam
pengertian teknologi tersebut. Hal ini untuk membedakan dengan pewujudan
sesuatu yang diperoleh secara intuitif, seperti karya seni. Menurut Vaza, teknologi terkait dengan jawaban
terhadap pertanyaan ”HOW”, sedangkan sains terkait dengan jawaban ”WHY”.
Teknologi
modern didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang ditrans-formasikan ke dalam produk, proses, jasa dan
struktur organisasi. Penciptaan teknologi oleh manusia dengan menggunakan budi
daya akalnya. Manusia harus memanfaatkan akal pikirannya dalam merekayasa
teknologi berdasar-kan nalarnya lalu membuatnya menjadi suatu produk yang
kongkrit. Dengan pengertian lain bahwa teknologi adalah usaha manusia untuk
memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk kepentingan dan kesejahteraan.
Pengertian teknologi dapat dipahami dari
berbagai definisi yang dida-sarkan pada berbagai pendekatan. Salah satu pendekatan ialah
mendefinisi-kan teknologi sebagai suatu produk.
Dalam pendekatan teknologi sebagai su-atu produk, teknologi antara lain
didefinisikan sebagai pengembangan dan aplikasi
dari alat, mesin, material, dan proses yang menolong manusia menye-lesaikan
masalahnya. Sejalan dengan definisi tersebut, beberapa pakar men-definisikan
teknologi sebagai sekumpulan pengetahuan ilmiah, mesin perka-kas, dan kemampuan
organisasi produksi yang dikelola secara sistematis dan efektif.
Kata teknologi sering dipahami oleh orang awam sebagai sesuatu yang
berupa mesin atau hal-hal yang berkaitan dengan permesinan, namun sesung-guhnya
teknologi pendidikan memiliki makna yang lebih luas, kerena tekno-logi
pendidikan merupakan perpaduan dari unsur manusia, mesin, ide, prose-dur, dan pengelolaannya (Hoba, 1997). Lebih
lanjut pengertian teknologi di-definisikan sebagai penerapan dari ilmu atau
pengetahuan lain yang terorga-nisir ke dalam tugas-tugas praktis (Galbraith, 1977).
Keberadaan teknologi harus
dimaknai sebagai upaya untuk meningkat-kan efektivitas dan efisiensi. Teknologi
juga tidak dapat dipisahkan dari ma-salah, sebab teknologi lahir dan
dikembangkan untuk memecahkan permasa-lahan yang dihadapi oleh manusia.
Teknologi pendidikan bisa
dipandang sebagai suatu produk dan proses (Sadiman, 1993). Sebagai suatu
produk, teknologi pendidikan mudah dipaha-mi karena sifatnya lebih kongkrit
seperti radio, televisi, proyektor, OHP, dan sebagainya.
Sebagai sebuah proses, teknologi pendidikan bersifat abstrak. Da-lam hal
ini teknologi pendidikan bisa dipahami sebagai suatu proses yang kompleks dan
terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari
jalan untuk mengatasi perma-salahan, melaksanakan, menilai, dan
mengelola pemecahan masalah tersebut yang menyangkut semua aspek belajar
manusia (AECT, 1977). Sejalan
de-ngan hal tersebut, maka lahirlah teknologi pendidikan dari adanya permasa-lahan
dalam pendidikan.
Permasalahan
pendidikan yang mencuat saat ini, meliputi pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan, peningkatan mutu atau kualitas,
relevan-si, dan efisiensi pendidikan.
Permasalahan serius yang masih dirasakan oleh pendidikan mulai dari
pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi adalah ma-salah kualitas, tentu saja
ini dapat dipecahkan melalui pendekatan teknologi pendidikan.
Ada tiga prinsip dasar
dalam teknologi pendidikan sebagai acuan dalam pengembangan dan pemanfaatannya,
yaitu pendekatan sistem, berorientasi pada siswa, dan pemanfaatan pada sumber
belajar (Sadiman, 1984). Prinsip pendekatan sistem berarti bahwa
penyelenggaraan pendidikan dan pembela-jaran perlu didisain atau dirancang
dengan menggunakan pendekatan sistem. Dalam merancang pembelajaran diperlukan
langkah-langkah prosedural me-liputi: identifikasi masalah, analisis keadaan,
identifikasi tujuan, pengelolaan pembelajaran, penetapan metode, penetapan
media, dan evaluasi pembelajar-an (IDI model, 1989). Prinsip berorientasi pada
siswa berarti bahwa dalam pembelajaran
hendaknya memusatkan perhatiannya pada peserta didik dengan
memperhatikan karakteristik, minat, potensi dari siswa. Prinsip pemanfaatan
sumber belajar berarti dalam pembelajaran, siswa hendaknya dapat memanfa-atkan
sumber belajar untuk mengakses pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkannya.
Satu hal lagi bahwa teknologi pendidikan adalah satu bidang yang menekankan
pada aspek belajar siswa.
Teknologi dalam
pembelajaran diartikan sebagai mekanisme untuk men-distribusikan
pesan, termasuk sistem pos, siaran radio dan televisi, telepon, satelit dan
jaringan komputer. Pada bahan diklat ini, pengertian teknologi di-dasarkan pada
definisi ini. Mungkin Anda bertanya, kalau begitu apa yang di-sebut media?
Pengertian media dalam materi diklat ini ialah diambil dari CISAER (2003).
CISAER mendefinisikan media dalam pembelajaran seba-gai pesan yang
didistribusikan melalui teknologi, terutama teks dalam bahan ajar cetak dan
dalam jaringan komputer, bunyi dalam audio-tape
dan siaran radio, serta teks, suara dan/atau gambar pada telekonferensi.
Penggunaan teknologi dalam pembelajaran
mengarah pada penggunaan internet atau jaringan komputer. Petherbridge dan
Chapmen (2007) melapor-kan bahwa teknologi internet yang digunakan dalam
pembelajaran tumbuh dari 4.000 satuan kredit semester pada tahun 2000 menjadi
lebih dari 19.000 satuan kredit semester pada tahun 2005. Sedangkan penggunaan
teknologi la-innya dalam pembelajaran, seperti siaran TV dan radio, DVD, video,
relatif tetap setiap tahunnya. Hal ini terjadi karena teknologi internet mampu
me-nyampaikan pesan secara mutimedia, baik teks, suara, gambar diam, maupun
gambar bergerak. Selain itu, teknologi internet memungkinkan penyampaian pesan
secara langsung (synchronous) seperti
siaran TV atau radio atau pe-nyampaian pesan secara tidak langsung (asynchronous) seperti video, kaset, dan
buku. Dengan fleksibilitas yang dimiliki teknologi internet, tidak meng-herankan
bila perkembangan penggunaan teknologi dalam pembelajaran me-ngarah pada
penggunaan internet. Pada umumnya yang dimaksud dengan teknologi informasi dan
komunikasi dalam pembelajaran ialah penggunaan intenet untuk pembelajaran. Oleh
karena itu, dalam paparan ini akan lebih ba-nyak dibahas mengenai penggunaan
internet untuk pembelajaran.
Keberhasilan
pembelajaran yang dilakukan dalam satu kegiatan pendidi-kan adalah bagaimana siswa dapat
belajar dengan cara mengidentifikasi, me-ngembangkan, mengorganisasi, serta
menggunakan segala macam sumber belajar. Upaya pemecahan masalah dalam
pendekatan teknologi pendidikan adalah dengan mendayagunakan sumber belajar. Hal
ini sesuai dengan ditan-dai dengan pengubahan istilah dari teknologi pendidikan
menjadi teknologi pembelajaran. Dalam definisi teknologi pembelajaran
dinyatakan bahwa tek-nologi pendidikan
adalah teori dan praktik dalam hal rancangan, pengembang-an,
pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi terhadap sumber dan proses un-tuk
belajar (Barbara, 1994).
Teknologi
dalam pembelajaran telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran
tradisional yang ditandai dengan inter-aksi tatap muka antara guru dan siswa
baik di kelas maupun di luar kelas se-hingga teknologi dalam pembelajaran
diartikan sebagai media untuk mendis-tribusikan pesan, termasuk sistem pos,
siaran radio, televisi, telepon, satelit dan jaringan komputer.
Dengan demikian
teknologi yang secara langsung relevan dengan pem-belajaran adalah disesuaikan
dengan makna pembelajaran itu sendiri. Ase Su-herlan (2000: 48) mengemukakan
bahwa pembelajaran teknologi pada haki-katnya merupakan komunikasi transaksional
yang bersifat timbal balik, baik di antara guru dengan siswa maupun siswa
dengan siswa dan lingkungan be-lajar dalam upaya pencapaian tujuan
pembelajaran. Dari makna pembelajaran di atas terdapat makna inti bahwa pembelajaran
harus mengandung unsur ko-munikasi dan Informasi.
Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran
Saat
ini perkembangan teknologi informasi (TI) telah memberikan penga-ruh terhadap dunia pendidikan
khususnya dalam proses pembelajaran. Menu-rut
Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan TI ada lima perge-seran
dalam proses pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari
ruang kelas ke di mana dan kapan saja, (3) dari kertas ke “on line” atau saluran, (4) fasilitas fisik ke fasilitas jaringan
kerja, dan (5) dari waktu siklus ke waktu nyata.
Teknologi informasi
dan komunikasi di sekolah memadukan kedua un-sur
teknologi informasi dan teknologi komunikasi menjadi teknologi informa-si
dan komunikasi dengan tujuan siswa memiliki kompetensi untuk meman-faatkan
teknologi informasi sebagai perangkat keras dan perangkat lunak un-tuk mengolah, menganalisis dan mentransmisikan data
dengan memperhatikan dan memanfaatkan teknologi komunikasi untuk
memperlancar komunikasi dan produk teknologi informasi yang dihasilkan
bermanfaat sebagai alat dan bahan komunikasi yang baik. Salah satu contoh
teknologi informasi dan ko-munikasi berbasis e- learning adalah penggunaan media internet.
Teknologi informasi
menekankan pada pelaksanaan dan pemprosesan data seperti menangkap,
mentransmisikan, menyimpan, mengambil, memani-pulasi
atau menampilkan data dengan menggunakan perangkat-perangkat tek-nologi
elektronik terutama komputer. Makna teknologi informasi tersebut be-lum
menggambarkan secara langsung kaitannya dengan sistem komunikasi, namun lebih
pada pengolahan data dan informasi. Teknologi komunikasi me-nekankan pada penggunaan perangkat teknologi elektronika
yang lebih mene-kankan pada aspek ketercapaian tujuan dalam proses
komunikasi sehingga data dan informasi yang diolah dengan teknologi informasi
harus memenuhi kriteria komunikasi yang efektif.
Guru
dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa akan memperoleh
informasi dalam lingkup yang luas dari
berbagai sumber melalui cyber space
atau ruang maya dengan meng-gunakan komputer atau internet. Model yang
sangat populer di abad ini ada-lah e-learning.
E-learning adalah model pembelajaran
melalui penggunaan teknologi internet.
4. Fungsi Teknologi Informasi
dan Komunikasi dalam Pembelajaran
Teknologi Informasi
dan Komunikasi (TIK) memiliki dua fungsi utama yang digunakan dalam kegiatan
pembelajaran yaitu meliputi:
a. Teknologi berfungsi sebagai alat (tool), yaitu alat bantu bagi pengguna (user) atau siswa untuk membantu
pembelajaran, misalnya dalam mengo-lah kata, mengolah angka, membuat unsur grafis,
membuat data base, membuat program
administratif untuk siswa, guru, dan staf, data kepega-waian, keuangan, dan
sebagainya.
b. Teknologi berfungsi sebagai ilmu
pengetahuan (science). Dalam hal ini
teknologi sebagai bagian dari disiplin ilmu yang harus dikuasai oleh sis-wa,
misalnya dalam pembelajaran di sekolah sesuai kurikulum 2006 ter-dapat mata
pelajaran TIK sebagai ilmu pengetahuan yang harus dikuasai siswa semua
kompetensinya.
E-LEARNING
Banyak
pakar yang menguraikan pengertian e-learning
dari berbagai su-dut pandang.
E-learning merupakan suatu jenis belajar
mengajar yang me-mungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan
menggunakan in-ternet, intranet atau media jaringan komputer lain (Hartley,
2001). E-learning juga didefinisikan
sebagai sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung
belajar mengajar dengan media internet, jaring-an komputer, dan lain-lain
(Learn Frame.Com, 2001). Definisi lain menyim-pulkan bahwa e-learning adalah semua yang mencakup pemanfaatan kompu-ter dalam
menunjang peningkatan kualitas pembelajaran, termasuk di dalam-nya penggunaan mobile technologies seperti PDA dan MP3 players. Penggu-naan teaching materials
berbasis web dan hypermedia,
multimedia CD-Room atau web sites, forum diskusi, perangkat lunak kolaboratif, email,
computer aided assessment, animasi pendidikan, simulasi, permainan,
perangkat lunak manajemen pembelajaran, dan lain sebagainya. Juga dapat berupa
kombinasi dari penggunaan media yang berbeda (Thomas Toth, 2003).
Jaya C.
Koran (2002) mendefinisikan e-learning
sebagai sembarang pe-ngajaran
dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau internet)
untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi atau bimbingan. Selanjutnya Dong
(dalam Kamarga, 2002) mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar melalui perangkat elektronik komputer yang
memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
Teknologi Pendukung E-learning
Dalam
praktiknya e-learning memerlukan
bantuan teknologi. Dalam per-kembangannya
komputerlah yang paling populer dipakai sebagai alat bantu pembelajaran secara
elektronik. Karena itu dikenal dengan istilah computer based learning (CBL) yaitu pembelajaran yang sepenuhnya
menggunakan komputer dan computer
assisted learning (CAL) atau pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama
komputer. Saat pertama kali komputer mulai diperkenalkan khususnya pada
pembelajaran, maka ia akan menjadi dikenal atau populer di kalangan siswa
karena berbagai variasi teknik mengajar yang bisa dibuat dengan bantuan
komputer tersebut.
Adapun teknologi dapat dikelompokkan
menjadi dua yaitu technology based
learning dan technology based web
learning. Technology based learning ini pada prinsipnya terdiri dari Audio Information Technology, misalnya:
radio, audio tape, voice mail
telephone, dan Video Information
Technologies, misal-nya: video tape,
video text, video messaging. Sedangkan technology
based web-learning pada dasarnya adalah Data
Information Technologies, missal-nya: bulletin
board, internet, e-mail, tele-collaboration.
Cara Pembelajaran dengan E-learning
Pada dasarnya cara pemberian
pembelajaran e-learning dapat
digolong-
kan menjadi dua, yaitu one way communication (komunikasi satu arah) dan two way communication (komunikasi dua
arah). Komunikasi atau
interaksi antara guru dan murid memang sebaiknya melalui sistem dua arah. Dalam
e-learning, sistem dua arah ini juga
bisa diklasifikasikan menjadi dua yaitu, di-laksanakan melalui cara langsung (synchronous) artinya pada saat guru mem-berikan
pelajaran, siswa dapat langsung mendengarkan dan dilaksanakan me-lalui cara
tidak langsung (a- synchronous)
misalnya pesan dari guru direkam dahulu sebelum digunakan.
Adapun
karakteristik e-learning antara lain
yaitu: (1) memanfaatkan jasa teknologi elektronik yaitu guru dan siswa, sesama siswa atau guru dan sesa-ma
guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh
hal-hal yang protokoler; (2) memanfaatkan keunggulan komputer digital media dan
computer networks; (3) menggunakan
bahan ajar bersifat mandiri (self
learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru
dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlu-kannya;
dan (4) memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kema-juan belajar
dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap
saat di komputer.
Kelebihan dan Kekurangan E-Learning
Beberapa kelebihan e-learning dibandingan dengan
pembelajaran tradi-
sional adalah sebagai berikut:
c. E-learning dapat mempersingkat waktu pembelajaran
dan membuat biaya studi lebih ekonomis (dalam kasus tertentu).
d. E-learning mempermudah interaksi antara peserta
didik dengan bahan atau mater, peserta didik dengan guru maupun sesama peserta
didik.
e. Peserta didik dapat saling berbagi
informasi dan dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan
berulang-ulang, dengan kondisi yang demi-kian itu peserta didik dapat lebih
memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran
f. Kehadiran guru tidak mutlak diperlukan
g. Guru akan lebih mudah melakukan alternatif
bahan-bahan belajar yang mutakhir sesuai
dengan tuntutan perkembangan keilmuwan, mengembang-kan diri atau
melakukan penelitian guna meningkatkan wawasannya, dan mengontrol kegiatan
belajar peserta didik.
h. Siswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap saat dan di mana
sa-ja kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer.
i.
Berubahnya
peran siswa dari yang biasanya pasif menjadi aktif.
Beberapa kelemahan yang
cenderung kurang menguntungkan bagi gu-ru, di antaranya:
a. Untuk sekolah tertentu terutama yang
berada di daerah, akan memerlukan investasi yang mahal untuk membangun e-learning.
b. Siswa yang tidak memiliki motivasi belajar
yang tinggi cenderung gagal.
c. Keterbatasan jumlah
komputer yang dimiliki oleh sekolah akan mengham-bat pelaksanaan e-learning.
d. Bagi siswa yang gagap teknologi, sistem
ini sulit untuk diterapkan.
e. Berubahnya peran guru dari yang semula
menguasai teknik pembelajaran konvensional,
kini dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggu-nakan ICT.
f. Kurangnya interaksi antara guru dan siswa
atau bahkan antar siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat
terbentuknya nilai dalam proses belajar dan mengajar.
Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam
Memanfaatkan E-learning
Ahli-ahli
pendidikan menyarankan beberapa hal yang perlu diperhatikan
sebelum seseorang memilih internet untuk kegiatan
pembelajaran (Bullen, 2001; Hartanto dan Purbo, 2002; Soekartawi et.al, 1999;
Yusup Hashim dan Razmah, 2001) antara lain:
Analisis Kebutuhan (Need Analysis )
Dalam tahap awal, satu
hal yang perlu dipertimbangkan adalah apakah memang memerlukan e-learning. Apabila analisis ini telah
dilaksanakan dan jawabannya adalah memerlukan e-learning, maka tahap berikutnya adalah membuat studi kelayakan
(Soekartawi, 1995) yang komponen penilaiannya adalah:
1) Apakah
secara teknis dapat dilaksanakan (technically
feasible) misalnya jaringan
internet bisa dipasang, apakah infrastruktur pendukungnya seper-ti telepon, listrik, komputer tersedia, apakah
tenaga teknis yang bisa meng-operasikannya tersedia, dan lain
sebagainya.
2) Apakah secara
ekonomis menguntungkan (economically
profitable) misal-nya
dengan adanya e-learning dapat
memberikan keuntungan.
3) Apakah secara sosial penggunaan e-learning tersebut diterima oleh ma-syarakat
(socially acceptable)
Rancangan Instruksional
Aspek-aspek yang
dipertimbangkan dalam menentukan rancangan ins-truksional (Soekartawi, et al,
1999; Yusup Hashim and Razmah, 2001) yaitu:
1)
Course Content
and Learning Unit Analysis seperti isi pelajaran, cakupan dan topik yang
relevan.
2) Learner
Analysis, seperti latar
belakang pendidikan siswa, usia, seks, sta-tus pekerjaan, dan sebagainya.
3) Learning
Context Analysis, seperti
kompetisi pembelajaran yaitu menge-nai apa yang diinginkan hendaknya dibahas
secara mendalam pada bagian ini.
4)
State Instructional
Objectives. Tujuan instruksional ini dapat disusun ber-dasarkan hasil dari
analisis instruksional.
5)
Construct
Criterion Test Items. Penyusunan tes ini dapat didasarkan dari tujuan
instruksional yang telah ditetapkan
6)
Select Instructional Strategy. Strategi instruksional dapat ditetapkan berda-
sarkan
fasilitas yang ada.
Tahap Pengembangan
Pengembangan e-learning dapat dilakukan mengikuti perkembangan fa-silitas
ICT yang tersedia. Hal ini terjadi karena kadang-kadang fasilitas ICT tidak
dilengkapi dalam waktu yang bersamaan, begitu pula dengan bahan ajar dan
rancangan instruksional yang akan dipergunakan hendaknya dikembang-kan dan dievaluasi
secara terus menerus.
Tahap Pelaksanaan
Prototype yang
lengkap bisa dipindahkan ke komputer (LAN) dengan menggunakan format tertentu
misalnya format Hyper Text Markup
Language (HTML) dan uji prototype
hendaknya terus menerus dilakukan.
Tahap Evaluasi
Sebelum
program dimulai, ada baiknya diujicobakan dengan mengambil beberapa sampel orang yang dimintai tolong untuk
ikut mengevaluasi.
Proses dari kelima tahapan di
atas diperlukan waktu yang relatif lama, karena prototype perlu dievaluasi secara terus menerus. Masukan dari orang
lain atau dari siswa perlu diperhatikan secara serius. Proses dari tahapan satu
sampai lima dapat dilakukan berulang kali,
karena prosesnya terjadi terus me-nerus.
Masalah-masalah
yang sering dihadapi dalam e-learning.
1) Masalah akses untuk bisa melaksanakan e-learning seperti ketersediaan jaringan
internet, listrik, telepon dan infrastruktur yang lain.
4) Masalah ketersediaan software (piranti lunak). Bagaimana mengusahakan piranti lunak yang tidak mahal.
5) Masalah dampaknya terhadap kurikulum yang
ada.
6)
Masalah skill
dan knowledge.
7)
Attitude
(perilaku) terhadap ICT.
Karena itu perlu diciptakan bagaimana
semuanya mempunyai sikap yang
positif terhadap
ICT, bagaimana semuanya bisa mengerti potensi ICT dan dampaknya ke siswa
sehingga penggunaan teknologi baru bisa mempercepat pembangunan.
E-learning dan Internet dalam
Pembelajaran
E-learning tidak terlepas dari
jasa internet. Karena teknik pembelajaran yang tersedia di internet begitu lengkap, maka hal ini
akan mempengaruhi tu-gas guru dalam proses pembelajaran. Dahulu, proses
belajar mengajar dido-minasi oleh peran guru, karena itu disebut the era
of teacher. Kini proses be-lajar dan mengajar banyak didominasi oleh peran
guru dan buku (the era of teacher and
book) dan pada masa mendatang proses belajar dan mengajar akan didominasi
oleh peran guru, buku, dan teknologi (the
era of teacher, book and technology).
Dalam era
globalisasi seperti sekarang ini, setuju atau tidak, mau atau ti-dak mau, kita harus berhubungan dengan
teknologi informasi. Hal ini dise-babkan karena teknologi tersebut telah
mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Karena itu, kita sebaiknya tidak gagap
teknologi.
Banyak
hasil penelitian menunjukkan bahwa siapa yang terlambat mengu-asai informasi, maka terlambat pulalah
memperoleh kesempatan-kesempatan untuk maju. Informasi sudah merupakan
“komoditi’ sebagai layaknya barang ekonomi yang lain. Peran informasi menjadi
kian besar dan nyata dalam du-nia modern seperti sekarang ini. Hal ini bisa
dimengerti karena masyarakat sekarang menuju
era masyarakat informasi atau masyarakat ilmu pengetahuan.
Contoh
klasik yang bisa dipakai bahwa kebutuhan informasi sudah mem-budaya yaitu melalui pengalaman Bill
Gates yang kita kenal sebagai sosok orang yang mempunyai perusahaan Microsoft
Computer. William Henry Gates III atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bill
Gates tersebut sebenar-nya kuliah di bidang
ilmu hukum Harvard University. Ia ingin menjadi penga-cara karena dengan
keahlian sebagai pengacara tersebut, maka ia bisa mem-punyai ’power’ untuk membantu masyarakat yang
memerlukan jasa hukum untuk memperoleh kebenaran.
Belajar ilmu hukum menurut dia, ternyata memerlukan waktu yang ba-nyak
untuk membaca di berbagai tempat seperti perpustakaan, toko buku, atau sumber
informasi yang lain. Ia merasa waktunya habis untuk membaca saja. Di situlah ia
lalu menemukan idenya mengapa informasi yang tersebar di mana-mana itu tidak dikemas saja dalam satu wadah (baca
komputer) agar yang memerlukannya tidak harus ke sana kemari. Di benak Bill Gates saat itu ia memimpikan ‘how
to create a tool for the information era that could magnify the brain power instead of just muscle
power’ (bagaimana menciptakan se-buah alat untuk era informasi yang bisa
memperbesar otak selain tenaga). Se-jak itulah The Saga of Microsoft mulai
digarap. Bill Gates akhirnya menjadi orang yang sangat produktif dan output oriented. Menurut Robert Heller
yang menulis buku tentang Bill Gates menyatakan bahwa Bill Gates selalu bilang
“Turn your vision into reality”.
Itulah sebabnya program-program yang ada di Microsoft selalu dibuat user friendly. Berkat jasa Bill Gates inilah maka e-learning berkembang seperti sekarang
ini.
Pemanfaatan e-learning khususnya internet untuk kegiatan pembelajaran
saat ini dikenal tidak hanya di Indonesia
ataupun di Asia Tenggara, namun juga di berbagai penjuru dunia. Hal ini karena
suatu kebutuhan baik dalam meningkatkan kualitas pembelajaran secara
keseluruhan serta jawaban atas tantangan global sehingga penggunaan e-learning dalam hal ini tidak bisa
dilepaskan dengan peran internet. Internet pada dasarnya adalah kumpulan
informasi yang tersedia di komputer yang bisa diakses karena adanya jaring-an
yang tersedia di komputer tersebut. Oleh karena itu bisa dimengerti bahwa e-learning
bisa dilakukan karena internet. E-learning
sering disebut pula de-ngan nama on-line
course karena aplikasinya
memanfaatkan jasa internet.
Pemanfaatan
internet untuk e-learning di sekolah
dapat meningkat apabi-la
fasilitas yang mendukungnya memadai, baik fasilitas yang berupa infra-struktur
maupun fasilitas yang bersifat kebijakan. Karena itu demi kelancaran terapan e-learning dalam proses belajar
mengajar, perlu diantisipasi hambat-an-hambatan yang sering muncul seperti
ketersediaan telepon dan listrik.
Penggunaan internet untuk pembelajaran
sering disebut e-learning. Isti-lah
lain untuk menamakan penggunaan internet dalam pembelajaran ialah
pembelajaran berbasis jejaring (web-based instruction), belajar on-line (online learning),
ruang kelas virtual (classroom virtual), atau pembelajaran berbasis WWW (WWW
based instruction). Semua istilah tersebut menyiratkan penger-tian bahwa pembelajar terpisah dari pengajar
secara jarak jauh, pembelajar menggunakan teknologi untuk mengakses bahan ajar,
pembelajar mengguna-kan teknologi internet
untuk berinteraksi dengan pengajar dan pembelajar yang lain, dan
terdapat bantuan belajar yang disediakan bagi pembelajar. Anderson &
Elloumi (2004) mendefinisikan e-learning
sebagai penggunaan internet untuk mengakses bahan ajar, berinteraksi dengan isi
bahan ajar, pengajar dan peserta ajar lainnya, dan mendapatkan bantuan belajar
selama proses pembe-lajaran, untuk dapat memperoleh pengetahuan, mengkonstruksi
pemahaman, dan bertumbuh kembang melalui pengalaman belajar
Jakarta Time
0 comments:
Post a Comment