Pendidikan
konvensional memiliki paradigma bahwa guru adalah satu-satunya sumber belajar,
sehingga dianggap orang yang paling memiliki pe-ngetahuan. Paradigma itu kemudian
bergeser menjadi guru lebih dahulu tahu. Namun
sekarang dengan perkembangan ilmu dan teknologi bukan saja penge-tahuan
guru bisa sama dengan murid, bahkan murid bisa lebih dulu tahu dari gurunya. Itu
semua dapat terjadi akibat perkembangan media informasi di se-kitar kita
sehingga pada saat ini guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar, melainkan
guru memiliki fungsi yang lebih luas yaitu sebagai penyedia fasi-litas belajar agar siswa mau belajar
(fasilitator), sebagai motivator yang mem-berikan semangat dan energi kepada
siswa untuk terus belajar. Selain itu guru harus mampu mengelola kegiatan
belajar siswa, memposisikan siswa sesuai minat, potensi, dan kemampuannya dan
memanfaatkan setting yang ada (or-ganisator)
dan mampu mengevaluasi keberhasilan belajar siswa baik proses maupun hasil
(evaluator). Banyak contoh, siswa dapat lebih dahulu mengak-ses informasi dari
berbagai media yang ada seperti surat kabar, televisi, bah-kan internet
sehingga lebih dahulu tahu dibanding gurunya. Tentu saja kondi-si ini merupakan
gejala yang positif sekaligus tantangan bagi para guru untuk memperbaiki proses
pembelajaranya.
Potensi-potensi
yang tersebar di sekolah dan di masyarakat berupa sum-ber belajar harus menjadi
perhatian guru untuk diorganisasi dengan baik se-hingga berdayaguna positif
untuk keberhasilan belajar siswa.
Perkembangan teknologi yang ada serta perubahan kurikulum menuntut guru
untuk lebih kre-atif, tidak lagi selalu
menunggu instruksi dari pusat. Guru adalah tenaga profe-sional, sehingga
harus cepat menyesuaikan diri dan mereposisi perannya. Pa-da saat ini guru
tidak lagi harus menjadi orang yang paling tahu di kelas. Na-mun ia harus mampu
menjadi fasilitator belajar dan pengelola sumber belajar bagi siswanya. Banyak
sumber belajar yang tersedia di lingkungan kita, apa-kah sumber belajar yang
dirancang untuk belajar ataukah yang tidak diran-cang namun dapat dimanfaatkan
untuk belajar. Mengapa sumber belajar itu diperlukan? Pernahkah Anda menemukan
guru yang sedang menghadapi ke-
sulitan dalam menjelaskan suatu meteri
pelajaran kepada muridnya?
Sebagai seorang
pengawas yang memiliki fungsi salah satunya adalah membantu kesulitan guru
dalam melaksanakan proses pembelajaran, tentu perlu memahami tentang apa itu
sumber belajar dan ragam sumber belajar apa saja yang dapat digunakan oleh
seorang guru pada saat menjelaskan su-atu
materi. Seorang pengawas yang baik adalah seorang pengawas yang mam-pu
memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi guru terutama yang berhubungan
dengan proses pembelajaran. Untuk itu alangkah baiknya jika kita fahami dulu
konsep tentang sumber belajar dan jenis
sumber belajar yang dapat digunakan oleh guru dalam menunjang proses
pembelajarannya.
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang ada di sekitar lingkungan ke-giatan
belajar yang
secara fungsional dapat digunakan untuk membantu opti-malisasi hasil belajar. Optimalisasi
hasil belajar ini dapat dilihat tidak hanya dari hasil belajar (output) namun juga dilihat dari proses
berupa interaksi sis-wa dengan berbagai
macam sumber yang dapat merangsang untuk belajar dan mempercepat
pemahaman dan penguasaan bidang ilmu yang dipelajarinya.
Implementasi pemanfaatan
sumber belajar di dalam proses pembelajar-an sudah tercantum dalam kurikulum. Proses
pembelajaran yang efektif ada-lah proses pembelajaran yang menggunakan berbagai
ragam sumber belajar. Kegiatan belajar
mengajar ditekankan pada aktivitas siswa dengan melakukan pengamatan benda-benda
atau situasi yang ada di lingkungan sekitar. Dari tujuan tersebut dirancang
kegiatan pembelajaran memberikan aktivitas siswa untuk melakukan percobaan sederhana yang dapat mempengaruhi pengalaman
belajarnya. Misalnya untuk mengenal sifat benda padat, cair, dan gas, melalui
percobaan ini tentu siswa memerlukan bahan dan alat berupa sumber belajar baik
yang nyata maupun buatan untuk memahami konsep benda dan dapat mengaplikasikan
dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai ilustrasi
berikut ini beberapa contoh riil aktifitas pembelajaran ketika menghadapi
tuntutan di atas.
Pertama,
guru akan bercerita tentang gajah, kereta api, atau pasar apung. Guru bisa bercerita mungkin karena pengalaman,
membaca buku, cerita orang lain, atau pernah melihat gambar ketiga objek
itu. Apabila murid sama sekali belum tahu, belum pernah melihat dari televisi
atau gambar di buku, maka betapa sulitnya guru menjelaskan hanya dengan
kata-kata tentang objek ter-sebut. Kalau guru adalah seorang yang ahli
bercerita, tentu cerita tersebut akan sangat menarik bagi murid-murid. Namun
tidak semua orang diberikan karunia kepandaian bercerita. Penjelasan dengan
kata-kata mungkin akan menghabiskan waktu yang lama, pemahaman murid juga
berbeda sesuai de-ngan pengetahuan mereka sebelumnya, bahkan bukan tidak
mungkin akan menimbulkan kesalahan persepsi karena terjadi verbalisme sehingga persep-si
guru dengan siswa tidak sama.
Kedua,
guru membawa murid untuk melihat objek yang sebenarnya mi-salnya studi wisata
mengunjungi tempat-tempat yang sesuai seperti kebun bi-natang, taman safari,
cagar alam atau tempat penangkaran binatang. Cara ini lebih efektif dibandingkan
dengan cara lain misalnya siswa mengenal bina-tang
hanya lewat gambar saja. Konsep ini sejalan dengan pendapat Edgar Dale
dalam teorinya Cone Experience yang
menjelaskan bahwa hasil belajar dapat diperoleh lebih optimal dengan cara
melakukan sendiri atau paling tidak me-lihat objek nyata. Hal tersebut dapat
dilakukan dengan melakukan kegiatan Fild
Trip seperti karyawisata. Namun demikian untuk melakukan tipe pem-belajaran
yang membawa siswa pada objek nyata terkadang membutuhkan biaya dan waktu yang cukup lama. Cara ini walaupun
efektif tapi kurang efi-sien. Tidak mungkin untuk
belajar semua orang harus mengalami segala se-suatu. Dengan demikian diperlukan
kreatifitas guru untuk menjadikan pem-belajaran lebih efisien namun hasilnya
lebih efektif dengan berpijak pada prinsip pengalaman belajar Edgare Dale di
atas. Cara kedua ini disebut juga pemanfaatan sumber belajar dengan menggunakan
fasilitas yang sudah terse-dia dan tidak dirancang secara khusus untuk
pembelajaran namun dapat digu-nakan secara langsung (media by utilization).
Ketiga, disebut media by design. Dalam hal ini guru merancang media sesuai dengan tuntutan tujuan materi dan karakteristik siswa, seperti gambar, foto, film, video tentang objek tersebut untuk dipergunakan di kelas. Cara ini akan sangat membantu guru dalam memberikan penjelasan. Selain menghe-mat kata-kata, menghemat waktu, penjelasan guru pun akan lebih mudah di-mengerti oleh murid, menarik, membangkitkan motivasi belajar, menghilang-kan kesalahpamahaman, serta informasi yang disampaikan menjadi lebih kon-sisten. Treatment pembelajaran seperti ini menghasilkan perolehan pengeta-huan dan pemahaman lebih dari 50% dan dapat dikatakan pembelajaran cu-kup berhasil.
E-LEARNING?
E-learning yang lengkap akan memiliki fasilitas-fasilitas sebagai
berikut.
a. E-Lectures.
E-Lectures merupakan fasilitas
yang menyediakan presentasi mengenai konsep atau teknik esensial yang
dibutuhkan pebelajar. Presentasi terse-but dapat disajikan berupa tampilan teks
melalui perangkat lunak untuk presentasi
(misalnya Powerpoint), atau
presentasi multimedia berupa tam-pilan audio, video, animasi, dan
gambar.
a.
Discussion Forum.
Discussion forum merupakan
tempat interaksi antar pebelajar dengan pe-ngajar.
Pebelajar diharapkan untuk memberikan ini-siasi suatu diskusi dan pebelajar
yang lain memberikan tanggapan. Pengajar akan meluruskan diskusi bilamana
jalannya diskusi menyimpang dari tujuan pembelajaran.
c. Ask an expert.
Fasilitas Ask an Expert menyediakan para ahli yang terkait dengan bahan ajar yang diajarkan. Pembelajar dapat mengakses
pakar dalam materi yang diajarkan secara online.
d. Mentorship.
Fasilitas ini menyediakan
pembimbing online mengenai materi
yang spe-sifik.
e. Local learning facilitator or tutor support.
Penyediaan fasilitator lokal
atau dosen lokal yang dapat memberikan per-temuan tatap muka.
d. Access to network resources.
Fasilitas ini berisikan bahan
bacaan tambah-an yang relevan dengan mata kuliah.
e. Structured
group activity.
Fasilitas ini berisikan
kegiatan kelompok yang terstruktur seperti diskusi kelompok kecil, seminar,
presentasi kelompok.
f. Informal peer interaction.
Fasilitas ini menyediakan
tempat untuk interaksi antar pebelajar melalui email atau chatt-room.
Jakarta Time
0 comments:
Post a Comment