Tuesday, May 21, 2013

SUMBER BELAJAR


Pendidikan konvensional memiliki paradigma bahwa guru adalah satu-satunya sumber belajar, sehingga dianggap orang yang paling memiliki pe-ngetahuan. Paradigma itu kemudian bergeser menjadi guru lebih dahulu tahu. Namun sekarang dengan perkembangan ilmu dan teknologi bukan saja penge-tahuan guru bisa sama dengan murid, bahkan murid bisa lebih dulu tahu dari gurunya. Itu semua dapat terjadi akibat perkembangan media informasi di se-kitar kita sehingga pada saat ini guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar, melainkan guru memiliki fungsi yang lebih luas yaitu sebagai penyedia fasi-litas belajar agar siswa mau belajar (fasilitator), sebagai motivator yang mem-berikan semangat dan energi kepada siswa untuk terus belajar. Selain itu guru harus mampu mengelola kegiatan belajar siswa, memposisikan siswa sesuai minat, potensi, dan kemampuannya dan memanfaatkan setting yang ada (or-ganisator) dan mampu mengevaluasi keberhasilan belajar siswa baik proses maupun hasil (evaluator). Banyak contoh, siswa dapat lebih dahulu mengak-ses informasi dari berbagai media yang ada seperti surat kabar, televisi, bah-kan internet sehingga lebih dahulu tahu dibanding gurunya. Tentu saja kondi-si ini merupakan gejala yang positif sekaligus tantangan bagi para guru untuk memperbaiki proses pembelajaranya.
Potensi-potensi yang tersebar di sekolah dan di masyarakat berupa sum-ber belajar harus menjadi perhatian guru untuk diorganisasi dengan baik se-hingga berdayaguna positif untuk keberhasilan belajar siswa. Perkembangan teknologi yang ada serta perubahan kurikulum menuntut guru untuk lebih kre-atif, tidak lagi selalu menunggu instruksi dari pusat. Guru adalah tenaga profe-sional, sehingga harus cepat menyesuaikan diri dan mereposisi perannya. Pa-da saat ini guru tidak lagi harus menjadi orang yang paling tahu di kelas. Na-mun ia harus mampu menjadi fasilitator belajar dan pengelola sumber belajar bagi siswanya. Banyak sumber belajar yang tersedia di lingkungan kita, apa-kah sumber belajar yang dirancang untuk belajar ataukah yang tidak diran-cang namun dapat dimanfaatkan untuk belajar. Mengapa sumber belajar itu diperlukan? Pernahkah Anda menemukan guru yang sedang menghadapi ke-
sulitan dalam menjelaskan suatu meteri pelajaran kepada muridnya?
Sebagai seorang pengawas yang memiliki fungsi salah satunya adalah membantu kesulitan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, tentu perlu memahami tentang apa itu sumber belajar dan ragam sumber belajar apa saja yang dapat digunakan oleh seorang guru pada saat menjelaskan su-atu materi. Seorang pengawas yang baik adalah seorang pengawas yang mam-pu memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi guru terutama yang berhubungan dengan proses pembelajaran. Untuk itu alangkah baiknya jika kita fahami dulu konsep tentang sumber belajar dan jenis sumber belajar yang dapat digunakan oleh guru dalam menunjang proses pembelajarannya.
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang ada di sekitar lingkungan ke-giatan belajar yang secara fungsional dapat digunakan untuk membantu opti-malisasi hasil belajar. Optimalisasi hasil belajar ini dapat dilihat tidak hanya dari hasil belajar (output) namun juga dilihat dari proses berupa interaksi sis-wa dengan berbagai macam sumber yang dapat merangsang untuk belajar dan mempercepat pemahaman dan penguasaan bidang ilmu yang dipelajarinya.
Implementasi pemanfaatan sumber belajar di dalam proses pembelajar-an sudah tercantum dalam kurikulum. Proses pembelajaran yang efektif ada-lah proses pembelajaran yang menggunakan berbagai ragam sumber belajar. Kegiatan belajar mengajar ditekankan pada aktivitas siswa dengan melakukan pengamatan benda-benda atau situasi yang ada di lingkungan sekitar. Dari tujuan tersebut dirancang kegiatan pembelajaran memberikan aktivitas siswa untuk melakukan percobaan sederhana yang dapat mempengaruhi pengalaman belajarnya. Misalnya untuk mengenal sifat benda padat, cair, dan gas, melalui percobaan ini tentu siswa memerlukan bahan dan alat berupa sumber belajar baik yang nyata maupun buatan untuk memahami konsep benda dan dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai ilustrasi berikut ini beberapa contoh riil aktifitas pembelajaran ketika menghadapi tuntutan di atas.
Pertama, guru akan bercerita tentang gajah, kereta api, atau pasar apung. Guru bisa bercerita mungkin karena pengalaman, membaca buku, cerita orang lain, atau pernah melihat gambar ketiga objek itu. Apabila murid sama sekali belum tahu, belum pernah melihat dari televisi atau gambar di buku, maka betapa sulitnya guru menjelaskan hanya dengan kata-kata tentang objek ter-sebut. Kalau guru adalah seorang yang ahli bercerita, tentu cerita tersebut akan sangat menarik bagi murid-murid. Namun tidak semua orang diberikan karunia kepandaian bercerita. Penjelasan dengan kata-kata mungkin akan menghabiskan waktu yang lama, pemahaman murid juga berbeda sesuai de-ngan pengetahuan mereka sebelumnya, bahkan bukan tidak mungkin akan menimbulkan kesalahan persepsi karena terjadi verbalisme sehingga persep-si guru dengan siswa tidak sama.
Kedua, guru membawa murid untuk melihat objek yang sebenarnya mi-salnya studi wisata mengunjungi tempat-tempat yang sesuai seperti kebun bi-natang, taman safari, cagar alam atau tempat penangkaran binatang. Cara ini lebih efektif dibandingkan dengan cara lain misalnya siswa mengenal bina-tang hanya lewat gambar saja. Konsep ini sejalan dengan pendapat Edgar Dale dalam teorinya Cone Experience yang menjelaskan bahwa hasil belajar dapat diperoleh lebih optimal dengan cara melakukan sendiri atau paling tidak me-lihat objek nyata. Hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan Fild Trip seperti karyawisata. Namun demikian untuk melakukan tipe pem-belajaran yang membawa siswa pada objek nyata terkadang membutuhkan biaya dan waktu yang cukup lama. Cara ini walaupun efektif tapi kurang efi-sien. Tidak mungkin untuk belajar semua orang harus mengalami segala se-suatu. Dengan demikian diperlukan kreatifitas guru untuk menjadikan pem-belajaran lebih efisien namun hasilnya lebih efektif dengan berpijak pada prinsip pengalaman belajar Edgare Dale di atas. Cara kedua ini disebut juga pemanfaatan sumber belajar dengan menggunakan fasilitas yang sudah terse-dia dan tidak dirancang secara khusus untuk pembelajaran namun dapat digu-nakan secara langsung (media by utilization).

          Ketiga, disebut media by design. Dalam hal ini guru merancang media sesuai dengan tuntutan tujuan materi dan karakteristik siswa, seperti gambar, foto, film, video tentang objek tersebut untuk dipergunakan di kelas. Cara ini akan sangat membantu guru dalam memberikan penjelasan. Selain menghe-mat kata-kata, menghemat waktu, penjelasan guru pun akan lebih mudah di-mengerti oleh murid, menarik, membangkitkan motivasi belajar, menghilang-kan kesalahpamahaman, serta informasi yang disampaikan menjadi lebih kon-sisten. Treatment pembelajaran seperti ini menghasilkan perolehan pengeta-huan dan pemahaman lebih dari 50% dan dapat dikatakan pembelajaran cu-kup berhasil. 
E-LEARNING?


E-learning yang lengkap akan memiliki fasilitas-fasilitas sebagai berikut.
a. E-Lectures.
E-Lectures merupakan fasilitas yang menyediakan presentasi mengenai konsep atau teknik esensial yang dibutuhkan pebelajar. Presentasi terse-but dapat disajikan berupa tampilan teks melalui perangkat lunak untuk presentasi (misalnya Powerpoint), atau presentasi multimedia berupa tam-pilan audio, video, animasi, dan gambar.
a.      Discussion Forum.
Discussion forum merupakan tempat interaksi antar pebelajar dengan pe-ngajar. Pebelajar diharapkan untuk memberikan ini-siasi suatu diskusi dan pebelajar yang lain memberikan tanggapan. Pengajar akan meluruskan diskusi bilamana jalannya diskusi menyimpang dari tujuan pembelajaran.
c.   Ask an expert.
Fasilitas Ask an Expert menyediakan para ahli yang terkait dengan bahan ajar yang diajarkan. Pembelajar dapat mengakses pakar dalam materi yang diajarkan secara online.
d.  Mentorship.
Fasilitas ini menyediakan pembimbing online mengenai materi yang spe-sifik.
e.  Local learning facilitator or tutor support.
Penyediaan fasilitator lokal atau dosen lokal yang dapat memberikan per-temuan tatap muka.
d.   Access to network resources.
Fasilitas ini berisikan bahan bacaan tambah-an yang relevan dengan mata kuliah.
e.   Structured group activity.
Fasilitas ini berisikan kegiatan kelompok yang terstruktur seperti diskusi kelompok kecil, seminar, presentasi kelompok.
f.    Informal peer interaction.
Fasilitas ini menyediakan tempat untuk interaksi antar pebelajar melalui email atau chatt-room.

0 comments:

Post a Comment

MISI AL MUJADALAH

ALMUJADALAH BERJUANG DENGAN BERMUJADALAH

MISI AL MUJADALAH 2

BERMUJADALAH BIL IKHSAN

MISI AL MUJADALAH 3

ud'uu fii sabiiliRobbika
bil Mujadalah

MISI AL MUJADALAH 4

DENGAN BERMUJADALAH AL MUUJADALAH BERJUANG